Kepala BPS Rusman Heriawan mengakui adanya kecenderungan naiknya harga komoditas dunia karena naiknya permintaan. Hal itu wajar terjadi di saat mulai pulihnya perekonomian dunia.
"Perekonomian baik akan meningkatkan demand. Kalau permintaan meningkat memang harga di dunia akan baik," ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Kamis (24/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan harga komoditas dunia misalnya CPO, barang tambang, itu menguntungkan Indonesia sebagai eksportir. Kalau berbasis di Indonesia akan menguntungkan Indonesia," jelasnya.
Namun sisi kedua, kenaikan harga tersebut akan berdampak negatif terutama bagi barang-barang impor karena akan menyebabkan inflasi dalam negeri.
"Kalau yang dibutuhkan Indonesia, ya tentunya berimbas kepada kebutuhan barang-barang impor sehingga akan terjadi imported inflation," ungkapnya.
Namun, Rusman mengkhawatirkan godaan dari kenaikan harga komoditas dunia terhadap para eksportir Indonesia. Pasalnya, para eksportir pastinya akan memilih menyuplai barang-barang komoditasnya ke luar untuk meraih untung sebesar-besarnya. Alhasil, suplai untuk dalam negeri berkurang sehingga menaikkan harga-harga barang di dalam negeri. Ini akan berdampak kembali terhadap naiknya inflasi.
"Godaannya kalau harga yang di luar lebih tinggi, maka eksportir akan mengurangi suplai, mereka memilih menyuplai ke luar negeri. Eksportir CPO akan berusaha mendorong suplainya ke luar untuk memperoleh harga yang terbaik dengan mengurangi suplai CPO ke dalam negeri sehingga harga minyak dalam negeri naik," keluhnya.
Untuk itu, Rusman mengimbau perlunya intervensi pemerintah untuk menjaga suplai dalam negeri sehingga tetap menjaga harga barang dan tidak menyebabkan kenaikan inflasi. Misalnya dengan menaikkan pajak ekspor.
"Pajak ekspor kan bisa dinaikkan sewaktu-waktu. Kalau harga CPO sedang tinggi maka pajak bisa dinaikkan, tapi kalau harga lagi rendah, pajak bahkan bisa di-zero-kan," tukasnya.
(nia/dnl)











































