Dalam kampanye Gerakan Cinta BBM, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo menjelaskan berbagai keuntungan menggunakan bahan bakar khusus yang tidak disubsidi pemerintah, selain tentu saja meringankan beban pemerintah.
"Bahan bakar khusus non subsidi seperti Pertamax, Pertamax Plus atau Pertamina Dex untuk solar memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan BBM subsidi," ujar Djaelani di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu (26/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, kandungan oktan hanya sebagian kecil dari keuntungan menggunakan bahan bakar khusus non subsidi. Keuntungan lainnya, lanjut Djaelani yakni mengandung zat pembersih sehingga membuat saluran bahan bakar kendaraan menjadi bersih.
"Mulai dari tempat penampungan hingga ke ruang bakar sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna. Otomatis ruang bakar mesin jadi awet," ungkapnya.
Selain itu, sambung Djaelani, zat pembersih tersebut juga mengurangi emisi hidro karbon (HC) yang lebih ramah lingkungan dan juga aman bagi pengendara.
"Kesadaran kita telah tergugah, subsidi itu hanya untuk rakyat kecil. Makanya kita gunakan BBM non subsidi," tuturnya.
Seperti diketahui, pada APBNP 2010, tercatat subsidi BBM dan elpiji mencapai Rp 88,89 triliun. Realisasi subsidi BBM yang dirilis Kementerian Keuangan hingga semester pertama 2010 mencapai Rp 22,7 triliun. Jumlah tersebut meningkat hamir lima kali lipat dibanding realisasi tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 5,8 triliun.
Kementrian ESDM melalui Direktur Jenderal Migas Evita Legowo menegaskan pada tahun 2010, Pemerintah hanya menyediakan 36,5 juta kilo liter BBM bersubsidi. Pemerintah terpaksa membatasi konsumsi BBM subsidi karena jika dibiarkan volume penggunaan akan meningkat hingga 40,1 juta kilo liter yang berpengaruh terhadap beban APBN.
(dru/qom)











































