Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengaku pihaknya mendukung penuh rencana Pemda Papua itu, meski sebelumnya, PLN sudah menggandeng China Huadian Engineering Company Ltd (CHEC) untuk membangun pembangkit dengan potensi 330 MW tersebut.
"Kami sangat bergembira, mendukung dan akan membantu sepenuhnya rencana tesrebut. Apalagi dijadwalkan dalam empat tahun sudah akan menghasilkan listrik," ujar Dahlan dalam siaran persnya yang diterima detikFinance, Senin (28/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau semua Pemda bergerak cepat seperti Pemda Papua, Indonesia akan cepat maju secara keseluruhan," katanya.
Terkait rencana PLN yang juga akan membangun PLTA tersebut, Dahlan mengatakan niat PLN hanya ingin membantu kelistrikan Papua lebih cepat.
"Tapi kalau ternyata Pemda sudah bisa bergerak sendiri, tentu kami mendukung apa yang akan dilakukan Pemda. Saya sungguh tidak menduga bahwa Pemda Papua demikian gesitnya. Kalau sejak awal saya tahu ini, PLN akan langsung memberikan dukungan penuh. Saya minta maaf atas keterlambatan saya mengetahui soal ini," jelasnya.
Meski pembangunan PLTA tersebut akan dilakukan oleh Pemda dan PT Ninday Karya, namun PLN menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan apa saja yang diperlukan. Apalagi, PLN sangat berpengalaman dalam membangun PLTA besar di seluruh Indonesia.
"Kalau diperlukan PLN siap membantu dan siap di belakang konsorsium Pemda-Nindya Karya," ungkap Dahlan.
Dahlan mengatakan membangun PLTA memiliki kekhasannya tersendiri. Menggandeng Nindya Karya tentu sangat tepat karena Nindya Karya punya pengalaman luas dalam membangun proyek-proyek sipil. Namun Dahlan juga menyarankan agar menggandeng satu perusahaan lagi yang berpengalaman di bidang elektrikalnya.
"Tapi itu tidak sulit. Banyak sekali perusahaan di bidang itu. Kalau mau menggandeng perusahaan yang sudah terlanjur menandatangani MoU dengan PLN itu juga boleh. Selain itu juga tidak apa-apa. Mana yang terbaik saja," paparnya.
Dahlan juga menyarankan agar konsorsium tesrebut sekaligus membangun transmisi dari PLTA menuju Timika. Dengan demikian proyek ini akan sinkron sejak hulu sampai hilirnya. Dahlan juga mengatakan dengan kepastian pembangunan PLTA oleh konsorsium Pemda ini, PLN akan mengevaluasi kembali perencanaan kelistrikan di Timika.
"Dengan proyek Urumuka, proyek lain seperti PLTU tidak banyak artinya lagi PLTU itu tidak termasuk energi green. Mendatangkan batubaranya juga sangat jauh. Apalagi PLTU juga sesekali mesti rusak atau diperbaiki," imbuhnya.
Seperti diketahui, PLN berencana menggandeng PT Freeport Indonesia untuk membangun PLTA dengan total kapasitas 330 Megawatt (MW) di Timika, Papua.
Bahkan untuk memuluskan niatnya, dalam pertemuannya dengan delegasi Mendag AS dan Pengusaha-Pengusaha AS di kantor Menko beberapa waktu lalu, Dahlan menawarkan proyek PLTA tersebut kepada mereka.
Namun karena tidak mendapatkan respons positif, maka PLN menandatangani MoU dengan China Huadian Engineering Company Ltd (CHEC) pada 18 Juni 2010 di Thailand. Perusahaan asal China itu telah berkomitmen untuk mendanai proyek itu.
Dahlan memperkirakan pembangkit dengan total kapasitas sebesar 300 MW tersebut akan menelan investasi sebesar Rp 5-6 triliun.
(epi/qom)











































