G20 Adopsi Dorongan Stimulus Fiskal dan Pengurangan Defisit

KTT G20 Toronto

G20 Adopsi Dorongan Stimulus Fiskal dan Pengurangan Defisit

- detikFinance
Selasa, 29 Jun 2010 04:05 WIB
G20 Adopsi Dorongan Stimulus Fiskal dan Pengurangan Defisit
Ankara - KTT G20 Toronto, Kanada menghasilkan 'Komunike Toronto'. Dalam komunike itu dijelaskan mengenai upaya untuk memulihkan krisis global. Dua pendapat yang sebelumnya menjadi pro kontra sama-sama diadopsi. Bagi anggota G 20, tetap bisa melakukan stimulus fiskal dan bisa juga melakukan pengurangan defisit.

Penjelasan ini disampaikan Presiden SBY saat memberikan briefing mengenai 'Hasil KTT G20 dan Kunjungan Kenegaraan ke Turki' di ballroom Hotel Sheraton, Ankara, Turki, pada pukul 21.30 waktu Ankara, Senin (27/6/2010) atau pukul 01.30 WIB, Selasa (29/6/2010). Briefing diikuti seluruh delegasi Indonesia.

SBY mengatakan dalam KTT G20, nampak sekali pemimpin dunia semangat untuk melakukan pemulihan ekonomi global. "Nampak sekali dari pemimpin dunia, semangat yang ada adalah untuk melakukan global economic recovery. Oleh karena itu, jika seolah-olah akan ada dua kubu yang berhadapan jelang G20, sebagaimana dalam KTT G 20 di London, alhamdulillah ternyata pertentangan tidak seseru yang ditulis di media massa," kata SBY.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam KTT G20 di Toronto, sudah ditetapkan bagi negara yang masih melakukan stimulus fiskal agar ketersediaan lapangan kerja terjaga dan meningkatnya ekonomi bagi kaum miskin, maka hal itu tetap dibenarkan. "Tentu dalam ruang dan batas-batas fiskal yang tersedia sesuai dengan kemampuan negara itu," jelas SBY.

Mengenai suara negara anggota G20 yang mendorong pemotongan defisit, SBY menjelaskan bahwa defisit anggaran di masing-masing negara berbeda. "Ada yang tinggi di atas 10 persen. Tapi, tidak ada yang serendah Indonesia. Pada 2008/2009, defisit kita tidak lebih dari 2,5 persen, seolah-olah kita tidak melakukan stimulus fiskal," ujar SBY.

"Jadi, agar tidak muncul krisis baru, maka defisit cut juga tidak masalah," imbuh SBY.

Karena itu, para kepala negara G20 menyepakati dua tujuan kembar, yaitu pemulihan ekonomi dan mencegah krisis baru. "Setelah dua tujuan itu, nanti berlanjut ke tujuan ketiga, yaitu ke depan benar-benar bisa dibangun pertumbuhan ekonomi global yang strong, sustainable dan balanced," tegas SBY.

Masing-masing negara G20, ada yang mengalami surplus, dan ada yang defisit. "Forum berpendapat bagi negara maju dan surplus, seperti China, harus berkontribusi agar bisa menyeimbangkan perekonomian. Tidak boleh ada negara yang sangat surplus dan yang sangat defisit. Indonesia tergolong sedikit surplus. Pandangan Indonesia yang saya sampaikan, bagi negara maju/emerging economies yang surplus harus bisa menyumbang," kata presiden di depan para delegasi Indonesia.

Indonesia sendiri, lanjut SBY, pada 2008/2009 pemerintah telah memberikan stimulus fiskal sebesar Rp 76 triliun. Namun, pemerintah tetap menjaga agar defisit APBN maksimum 2,5 persen.

"Dan sekarang keadaan ekonomi kita lumayan baik, tidak ada ledakan pengangguran, krisis baru, stabilitas mata uang terjaga. Kesimpulannya apa yang  kita terapkan itu mengena," kata SBY.

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan mengatakan KTT G20 tidak menjadikan kesepakatan mengenai wacana yang dibawa Eropa agar dilakukan pemotongan defisit sebanyak 50% sampai 2013. "Wacana itu memang akhirnya tidak menjadi kesepakatan," kata Hatta.

Yang diambil oleh para pemimpin G20 adalah menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing negara, apakah akan mendorong stimulus fiskal atau memotong defisit anggaran. "Pilihan itu diserahkan kepada negara-negara sesuai kondisi masing-masing negara. Tapi muaranya nanti tetap terjadi pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan seimbang," kata Hatta.

(asy/asy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads