70% Konsumen Pede dengan Pekerjaannya

70% Konsumen Pede dengan Pekerjaannya

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Selasa, 29 Jun 2010 13:55 WIB
70% Konsumen Pede dengan Pekerjaannya
Jakarta - Mayoritas konsumen di Indonesia masih yakin dan percaya diri dengan prospek pekerjaan dan masa depannya. Sebanyak 70% konsumen Indonesia mendeskripsikan prospek pekerjaannya dalam kategori sangat baik.

Menurut Executive Director Consumer Research Nielsen Company Indonesia Catherine Eddy, angka ini lebih tinggi jika dibandingkan prospek pekerjaan konsumen di Asia Pasifik yang sebanyak 57% berkategori sangat baik.

"Namun angka ini masih kalah jika dibandingkan dengan konsumen di India sebanyak 97% dan Singapura 76%. Mereka lebih optimistis soal pekerjaan di tahun-tahun berikutnya," katanya di Menara Mayapada, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (29/6/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sejalan dengan pemikiran positif ini, sebanyak 46% konsumen di Indonesia menyatakan sekarang saat yang tepat untuk membeli barang yang dibutuhkan dan diinginkan. Angka ini meningkat sebanyak 5% dari enam bulan lalu.

Ia mengatakan, konsumen di Indonesia sangat percaya diri dengan kondisi finansialnya dalam 12 bulan ke depan dan berencana untuk menggunakan kelebihan uangnya untuk kebutuhan non pokok, seperti liburan dan pakaian baru.

Tahun ini, konsumen Indonesia yang berniat untuk melakukan liburan sebanyak 39% dan pakaian baru sebanyak 24%. Selebihnya, proporsi konsumen yang berniat untuk melunasi utangnya tahun ini mencapai 28%.

"Sepertinya konsumen di Indonesia mulai melonggarkan dompetnya saat kita lihat mulai belanja barang-barang bukan kebutuhan pokok," ujarnya.

Ia menambahkan, sebanyak 20% konsumen di Asia Pasifik merasa kekhawatiran terhadap ekonomi, 14% terhadap pekerjaan, dan 11% terhadap kesehatan. Kekhawatiran terhadap keamanan pekerjaan sebanyak 16%.

"Yang menarik, di Indonesia kekhawatiran konsumen terhadap ekonomi justru berada di urutan kedua. Di urutan pertama justru kekhawatiran terhadap pekerjaan dan kehidupan, diikuti dengan kekhawatiran pendidikan anak dan kebahagiaan keluarga," katanya.


(ang/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads