Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sumbangan dari Rokok Kretek Filter terhadap Garis Kemiskinan mencapai 7,93% di perkotaan dan 5,9% di pedesaan.
"Angka ini maksudnya, sekian persen pengeluarannya itu dibuat membeli rokok," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (1/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya ini dilematis, karena penerimaan negara juga dari sini (industri rokok), cukai, lapangan kerja, tapi buat orang miskin, rugi ini," keluhnya.
Selain rokok, pengeluaran terbesar penduduk miskin ditempati pada bahan makanan. Sumbangan sektor ini pada kemiskinan mencapai 25,20% di perkotaan dan 34,11% di pedesaan.
"Orang miskin itu yang penting makan, urusan rumah, pendidikan itu nomor 11,12,13. Ada bahan makanan sudah tenang,bahagia dunia akhirat," ujarnya.
Komoditi bukan makanan yang memberi sumbangan besar untuk Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan mencapai 8,43% di perkotaan dan 6,11% di pedesaan, biaya listrik 3,30% di perkotaan dan 1,87% di pedesaan.
"Ini akan tetap walaupun TDL naik karena kan rata-rata penduduk miskin menggunakan listrik 450-900 watt," jelasnya.
Untuk indikator pengeluaran penduduk miskin naik 5,72% dari Rp 200.262 per kapita per bulan pada bulan Maret 2009 menjadi Rp 211.726 per kapita per bulan pada Maret 2010.
"Jadi kalau segitu, tandanya pengeluarannya Rp 7 ribu per hari, kalau di rumah saja mungkin bisa ya," ujar Rusman.
(nia/qom)











































