"Besok mau dibahas dengan Presiden, supaya mereka tak ketinggalan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, usai menerima kunjungan Presiden Swiss di Kantornya, Kuningan, Jakarta, Selasa (6/7/2010).
Sofjan menjelaskan keinginan Swiss untuk melakukan FTA dengan Indonesia sudah disampaikan pihak Swiss sejak 5 tahun lalu. Namun pihak Indonesia belum melakukan respon terhadap keinginan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diharapkan dengan adanya pertemuan dengan Presiden SBY, besok, wacana tersebut bisa ditindaklanjuti oleh kedua kepala negara.
Sofjan menambahkan Indonesia berpeluang melakukan ekspor di luar komoditas, seperti produk elektronik. Selama ini Indonesia lebih banyak mengimpor produk-produk segmen atas seperti produk mesin dan lain-lain.
Ia mengharapkan kerjasama perdagangan dan investasi kedua negara bisa terus ditingkatkan. Mengingat Indonesia memiliki kelebihan dengan jumlah pasar yang besar, sementara Indonesia bisa menjadikan Swiss negara perantara di pasar Eropa.
"Total ekspor Swiss pertahunnya US$ 186 miliar, kalau kita masih di bawahnya," jelasnya.
Total perdagangan Swiss dengan Indonesia baru mencapai US$ 154,150 juta pada periode Januari-Maret 2010 atau turun pada periode yang sama sebesar 9,8% sebesar US% 171,047 juta.
Sementara total perdagangan kedua negara pada tahun 2009 sebesar US$ 621,484 juta sedangkan tahun 2008 sempat tembus US$ 983,865 juta.
Sementara di bidang investasi, selama ini Swiss banyak berminat di bidang industri makanan, industri kimia dan farmasi, pengiriman, perkebunan, perhotelan, pengolahan air minum, permesinan, dan lain-lain.
Hingga kini sudah tercatat 75 perusahaan Swiss yang telah membenamkan investasinya ke Indonesia yaitu ABB, Bobst, Nestle, Clariant, Ciba, Colenco, Credit Suisse, Danzas, Egon Zehder, DKSH, Givaudan, Panalpina, Roche, Holcim, Sika, Sulzer, UBS, Villger Tobacco, dan lain-lain.
(hen/dnl)











































