Setelah melakukan rapat bersama, pemerintah menyimpulkan biang kerok dari maraknya ledakan tabung gas elpiji 3 kg adalah selang karet dan regulator yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Masyarakat mendapat banyak keuntungan dengan membeli selang dan regulator baru.
"Ternyata ditemukan menggunakan komponen yang tidak sesuai SNI, sehingga timbul kebocoran. Kebetulan karena kurangnya sosialisasi pemakaian tabung, berada di dapur yang sempit, terjadilah ledakan dan timbulkan korban," kata Menko Kesra Agung Laksono di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (6/7/2010).
Menurutnya, meski tidak gratis, masyarakat sebenarnya mendapat dua keuntungan dari pembelian selang dan regulator yang baru, yaitu bebas pajak penjualan 10 persen dan dibeli dengan harga pabrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini, menurut Agung, merupakan pencegahan yang dilakukan pemerintah agar tidak ada lagi korban berjatuhan akibat tabung yang meledak. Secara jangka panjang, masyarakat bisa kembali percaya untuk menggunakan gas ketimbang minyak, sesuai dengan semangat konversi energi.
"Pemerintah akan berusaha mencegah, karena sudah ada 44,5 juta set tabung yang beredar, dalam rangka konversi, dan masih ada 16 juta lagi yang segera
diluncurkan cuma-cuma dan gratis kepada masyarakat," imbuhnya.
Menurutnya, selama ini kecelakaan yang ada di masyarakat bukan dari kebocoran tabung, melainkan selang dan regulator tadi. Agung menambahkan, Presiden SBY sudah setuju masyarakat membeli aksesoris yang baru.
Ia memastikan, penjualan selang dan regulator baru sudah bisa dilakukan esok hari. Mengenai harga dan tata cara pembelian selengkapnya ada di sini.
(ang/dnl)










































