DBS Chief Economist and Managing Director for Economy and Currency Research David Carbon menyatakan, sejak awal terjadinya krisis di kuartal III-2008, konsumsi Asia tumbuh sebesar 17%, sementara AS hanya tumbuh 1%.
Jepang dan Eropa bahkan lebih kecil lagi yaitu masing-masing 0,5% dan 0,7%. Kondisi ini bertentangan dengan perkiraan kebanyakan orang ketika krisis mulai melanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
David menegaskan krisis utang yang saat ini terjadi di Eropa tidak akan berpengaruh secara signifikan kepada perekonomian Asia.
Namun, krisis tersebut akan menyebabkan terjadinya penundaan kenaikan suku bunga di Asia walaupun tidak dalam waktu yang lama, sementara pengetatan moneter masih terus berlanjut pasca krisis di Eropa.
"Inilah yang menyebabkan pertumbuhan Asia berjalan lambat, tidak terlalu cepat," ujarnya.
David menilai tantangan terbesar Asia saat ini adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika dan Eropa.
Meskipun begitu, Asia tetap diharapkan untuk tumbuh lebih cepat, bukan lebih lambat dari 5 tahun sebelumnya yang sempat membawa Asia pada krisis keuangan global.
(nia/dnl)










































