Demikian hasil penelitian yang dilakukan The Nielsen Company (Nielsen) terhadap 1.783 responden di beberapa kota besar di Indonesia.
"Krisis global menciptakan ketakutan, spending ciut, tradisional trade (pasar tradisional) masih mendominasi perdagangan Indonesia di mana mencapai 70%," kata Director Retail Services Nielsen, Yongki Susilo, di Mayapada Tower, Sudirman, Jakarta, Rabu (07/07/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau belanja di hypermarket pengeluaran akan jauh tidak terkontrol. Kalau tradisional market bisa lebih ditekan," katanya.
Pada pasar tradisional, tambah Yongki, masyarakat lebih banyak memilih bahan pangan segar terlebih untuk daging dan sayuran.
Lebih lanjut Yongki menuturkan, selama tahun 2009 masyarakat dalam satu bulan pergi ke hypermarket sampai 2 kali. Sedangkan ke supermarket mencapai 3 kali dalam satu bulannya.
"Namun jika ke minimarket sampai seminggu itu hampir satu sampai 2 kali atau 7 kali sebulan. Nah ke pasar tradisional itu sampai 25 kali sebulan atau sehari satu kali," ungkapnya.
Masih berdasarkan penelitian Nielsen, transaksi yang terjadi pada pasar tradisional paling banyak terjadi di pagi hari. Sebanyak 70% konsumer akan berbelanja antara pukul 5 hingga 9 pagi, dan sisanya akan berbelanja pada pukul 10 hingga 12 siang.
"Berdasarkan riset, orang pergi ke hypermarket bersama-sama keluarganya di mana mencapai 80% dan di pasar tradisional orang lebih sering sendiri," tukasnya.
(dru/dnl)










































