Menteri BUMN: Terminal 1C Bandara Soetta Kumuh dan Semrawut

Menteri BUMN: Terminal 1C Bandara Soetta Kumuh dan Semrawut

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Senin, 12 Jul 2010 11:59 WIB
Menteri BUMN: Terminal 1C Bandara Soetta Kumuh dan Semrawut
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar mengakui kapasitas Bandara Soekarno-Hatta yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) sudah tidak mampu menampung jumlah penumpang dalam kesehariannya. Terminal 1C juga terkenal dengan image kumuh, semrawut, dan tidak ada integrasi antar layanan.

Menurutnya, kondisi terminal 1C dibangun dan dioperasionalkan selama 25 tahun sejak tahun 1985 ini dahulu hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan kapasitas sebanyak 9 juta penumpang.

"Terminal ini kurang mampu mengakomodasi perkembangan kebutuhan terkini di Terminal 1 dimana mobilitas penumpang telah mencapai angka sekitar 20 juta," katanya dalam teks pidatonya di peresmian Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Senin (12/7/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini menurut Mustafa mengakibatkan timbulnya berbagai macam permasalahan dalam pengelolaan Terminal 1, diantaranya tingginya tingkat kepadatan dan seringnya terjadi penumpukan dan antrian penumpang.

Untuk itu, lanjut Mustafa, perseroan seharusnya bisa belajar banyak dari pengelolaan bandara-bandara lain di dunia yang telah berhasil mendapatkan predikat sebagai Bandara Terbaik di Dunia seperti Bandara Internasional Incheon Korea Selatan, Bandara Internasional Hongkong, Bandara Changi, Bandara Munich, dan Bandara Schippol Amsterdam.

"Bandara-Bandara tersebut sangat memperhatikan kebutuhan pelanggan seperti transportation accessibility, prices, cleanliness, in time and on time performance, dan security," ujarnya.

Ia juga mengakui, sejak dulu Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta terkenal dengan image kumuh, semrawut, tidak adanya integrasi antar layanan dan fasilitas di dalam Bandara, serta menjadi tempat yang tidak efisien karena tingginya harga yang diperjualbelikan di bandara.

Menurut Mustafa, ada beberapa hal yang harus diperbaiki, diantaranya perlu adanya perbaikan baik dari sisi penumpang, airlines dan konsesioner.

Sedangkan, menurut Mustafa, dari sisi penumpang aspek-aspek seperti kondisi tempat menunggu dan tempat pemberhentian kendaraan umum, keamanan dan ketertiban parkir, serta informasi waktu boarding/keterlambatan perlu ditingkatkan.

"Dari sisi airlines dan konsesioner hal-hal seperti fasilitas counter, tarif berlaku dan penanganan bagasi perlu mendapat perhatian khusus," ungkapnya.

ECO Airport

Selain itu, Musta juga meminta bandara Soekarno-Hatta yang dikelola oleh PT Angkasa Pura II (Persero) bisa menerapkan ECO Airport. Hal ini dilakukan terkait efisiensi perseroan menyusul kenaikan Tarif Dasar Listrik
(TDL) oleh pemerintah awal bulan lalu.

"Salah satu point dalam 10 Direktif Presiden yakni penguatan green economy, dan mengingat telah diberlakukannya kenaikan TDL, manajemen Angkasa Pura II  harus menyadari penataan Terminal tidak hanya dilakukan untuk aspek interior, namun juga perlu didorong untuk mewujudkan penerapan ECO Airport," katanya.

Menurutnya, dengan menerapkan konsep ECO Airport, maka perseroan dapat  mengganti sumber energi yang digunakan untuk operasional bandara dengan memanfaatkan energi alternatif yang ramah lingkungan guna mendukung efisiensi
operasional Bandara. Ia juga meminta perseroan untuk melakukan penataan kembali di seluruh terminal yang ada di bandara, tidak hanya terminal 1C.

"Pembangunan dan pembaharuan tidak akan optimal dan kurang bermanfaat apabila tidak diintegrasikan dan dilanjutkan dengan penataan pada Terminal 1A dan 1B," tambahnya.



(ang/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads