Sering Ada Ledakan, Tabung Elpiji 3 Kg Tidak akan Ditarik

Sering Ada Ledakan, Tabung Elpiji 3 Kg Tidak akan Ditarik

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Senin, 12 Jul 2010 15:57 WIB
Bekasi -

Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana) menyatakan 44 juta tabung elpiji 3 kg yang sudah beredar melalui program konversi sulit untuk ditarik dan diganti dengan yang baru meski banyak terjadi kasus ledakan.

Selain membutuhkan biaya yang sangat besar, penyebab ledakan juga belum tentu akibat kondisi tabung yang jelek.

Demikian hal itu diungkapkan oleh Ketua Hiswana Migas, Erry Purnomohadi di sela acara sosialisasi penggunaan kompor dan aksesoris LPG 3 Kg secara aman dan benar, di Kecamatan Mekar Sari, Bekasi Timur, Senin (12/72010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau 44 juta tabung yang sudah beredar harus ditarik semua, maka harus ada dana Rp 100.000 per unit maka sedikitnya harus ada dana Rp 4,4 triliun," ungkapnya.

Ia mengatakan, selain membutuhkan dana yang cukup besar, alasan untuk penarikan tabung gas lama tersebut juga belum cukup kuat. Selama ini, yang disinyalir menjadi penyebab meledaknya tabung karena selang dan regulator yang tidak terpasang dengan baik.

Erry menjelaskan, selama ini agen hanya menjadi penjual elpiji 3 kg yang diproduksi oleh PT Pertamina (Persero). Jika ada kebocoran, maka pengecekkan dilakukan oleh Pertamina sebelum disebarkan.

Untuk mengurangi tingkat kecelakan pengguna elpiji 3 Kg, selain melakukan penjualan selang dan regulator baru, Hiswana bersama Pertamina juga melakukan sosialisasi kepada para agen dan masyarakat yang menggunakan elpiji 3 Kg.

"Sosialisasi terus dilakukan, telah ada 450 agen dan pangkalan disekitar Jabodetabek dan Jawa Barat yang ikut serta dalam sosialisasi. Ini momen tanggung jawab sosial," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan, saat ini jumlah kasus ledakan elpiji mencapai 54 kasus di tahun ini saja. Pertamina bertekad untuk menggelar lebih banyak sosialisasi untuk mengerem jumlah tersebut.

"Tahun ini saja sudah 54 kasus. Mudah-mudahan semakin melambat dengan adanya sosialisasi yang semakin kencang," ujarnya.

(ang/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads