"Memang kebijakan pengelolaan utang kita selain menjaga loan to GDP (rasio utang) turun. Kita juga menjaga agar pinjaman luar negeri kita turun. Jadi berorientasi pada pinjaman dalam negeri jika diperlukan," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (12/7/2010).
Selain menjaga total utang menurun, Agus juga menyatakan pihaknya akan memperhatikan upaya peningkatan penerimaan negara, baik itu dari pajak dan non pajak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, jika diharuskan mengutang, maka Agus sangat memperhatikan prasyarat utang yang ringan dengan bunga yang rendah.
"Kalau ada pinjaman kan ada pinjaman proyek dan pinjaman program kita menjaga agar pinjaman yang kita terima agar jangka waktunya panjang, persyaratnya ringan, dan tidak ada membatasi kita secara politis," tukasnya.
Seperti diketahui, jumlah utang pemerintah Indonesia selama semester I-2010 tercatat sebesar Rp 1.612,85 triliun. Bertambah Rp 22,19 triliun dari jumlahnya di akhir tahun 2009 yang sebesar Rp 1.590,66 triliun.
Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah mencapai US$ 177,57 miliar, bertambah US$ 8,35 miliar dari jumlah di akhir 2009 yang sebesar US$ 169,22 miliar.
Utang tersebut terdiri dari pinjaman US$ 63,51 miliar dan surat berharga US$ 114,06 miliar. Dengan menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.253,79 triliun, maka rasio utang Indonesia tercatat sebesar 26%.
Peningkatan signifikan terjadi pada jumlah utang dalam bentuk surat berharga negara atau obligasi yang nilainya meningkat menjadi US$ 177,57 miliar, dari jumlah di akhir 2009 yang sebesar US$ 169,22 miliar.
(nia/dnl)











































