Sekitar 30% dari kapasitas tersebut akan berupa pembangkit mulut tambang yang memanfaatkan batubara lignite yang sebagian besar berada di Sumatera.
Berdasarkan data Rencana Umum Penyediaan Listrik (RUPTL) PLN tahun 2010-2019 yang dikutip detikFinance, Selasa (13/7/2010), pembangkit berbahan bakar batubara dirancang untuk memikul beban dasar karena harga bahan bakar ini relatif paling rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar batubara harus memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkannya," ujar data itu.
Dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), penggunaan teknologi supercritical boiler adalah sangat dianjurkan karena menghasilkan emisi yang lebih sedikit untuk setiap kWh listrik yang dihasilkannya, di samping penggunaan electrostatic precipitator dan flue gas desulphurization yang juga sangat dianjurkan.
"Teknologi batubara bersih (clean coal technology) yang lebih maju, seperti IGCC (integrated gassification combined cycle). dan CCS (carbon capture & storage) belum direncanakan dalam RUPTL ini," jelas data itu.
PLN mengakui, kendala utama yang dihadapi BUMN listrik itu mengenai batubara adalah security of supply.
Security of supply batubara sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah mengenai domestic market obligation (DMO) dan batasan harga dalam negeri, di samping kesiapan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dermaga, dan alat transportasi yang masih terbatas khususnya persiapan untuk proyek percepatan 10.000 MW.
Selain itu, masalah kesiapan infrastruktur memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara yang tersedia di tambang dapat sampai ke pembangkit sesuai rencana.
(epi/dnl)











































