Demikian disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (13/07/2010).
"Pada 9 Juli 2010, Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan sovereign long term foreign currency rating Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dan sovereign long term local currency rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook 'stable' untuk keduanya," ujar Difi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Per akhir Mei 2010 rata rata pertumbuhan empat sektor tersebut pada 2010 sebesar 12,9% lebih tinggi dibandingkan rata rata pertumbuhan 2009 sebesar 8,2%," katanya.
Pinjaman untuk industri pengolahan, lanjut Difi ditujukan terutama untuk investasi yang mencapai 50% dan sisanya untuk modal kerja dan refinancing.
"Pinjaman untuk listrik terutama untuk pendanaan proyek listrik 10.000 MW kemudian pinjaman pertambangan terutama dalam penerbitan global bond dan penarikan loan agreement sejalan dengan tingginya demand dari Cina dan India khususnya batubara. Sementara pinjaman untuk sektor keuangan yang relatif signifikan selama 2010 sejalan dengan meningkatnya transaksi trade financing dan impor melalui perbankan," papar Difi.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono menyambut gembira upgrade rating oleh JCR ini.
"Peningkatan rating ini merupakan cerminan perbaikan persepsi dan penilaian lembaga rating terhadap situasi perekonomian Indonesia yang terbukti tangguh. Predikat investment grade akan menambah kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Dengan upaya bersama yang strategis dan terarah, langkah ini diyakini dapat diikuti oleh lembaga-lembaga rating internasional lain", demikian dinyatakan Hartadi.
(dru/dnl)











































