Menurut Koordinator Pelaksana konversi Divisi Gas Domestik Pertamina, Kusnendar, penjualan minyak tanah bersubsidi sebelum dimulainya program konversi sebesar 830.000 kiloliter (KL) per bulan, namun hingga akhir Juni 2010 atau sekitar tiga tahun program konversi berlangsung, penjualan minyak tanah turun menjadi 190.000 KL per bulan.
"Saat ini penjualan minyak tanah tinggal 20 persen dari penjualan minyak tanah sebelum konversi. Jadi 80 persen sudah diganti elpiji," jelas Kusnendar dalam diskusi di restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Kamis (15/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau biasanya kita memasak dengan satu liter minyak tanah, tapi jika menggunakan elpiji kita hanya pakai sepertiga dari satu liter minyak tanah itu," jelasnya.
Pertamina mencatat penghematan subsidi yang telah diperoleh BUMN migas itu dari penjualan elpiji mencapai Rp 29,95 triliun hingga Juni 2010. Jika dikurangi biaya paket konversi sebesar Rp 10,62 triliun maka penghematan bersih yang dihasilkan mencapat Rp 19,34 triliun.
Hingga semester I-2010, Pertamina telah mendistribusikan paket perdana sebesar 44,675 juta paket, dengan volume elpiji 3,793 juta metric ton (MT) dan penarikan minyak tanah sebanyak 11,317 juta KL.
(epi/dnl)











































