Pemerintah Godok Bentuk BUMN Baru Kembangkan Inalum

Pemerintah Godok Bentuk BUMN Baru Kembangkan Inalum

Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
Jumat, 16 Jul 2010 15:04 WIB
Pemerintah Godok Bentuk BUMN Baru Kembangkan Inalum
Jakarta -

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang mengkaji kemungkinan untuk membentuk perusahaan pelat merah baru untuk mengembangkan usaha PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). BUMN baru itu akan dibentuk jika 100 persen kepemilikan saham Inalum sudah dikuasai pemerintah.

"Tidak tertutup kemungkinan membuka BUMN baru, jika kondisi tersebut dianggap lebih tepat untuk meneruskan estafet, kalau 100% sudah dipegang Indonesia," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini pemerintah juga masih menghitung teknis kepemilikan saham di Inalum jika nanti PT Aneka Tambang Tbk (Antam) maju sebagai wakil pemerintah. Pengkajian BUMN baru ini dilakukan sebagai salah satu opsi dalam pengambil alihan Inalum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, pemerintah sudah mengira-ngira jumlah dana yang harus disiapkan untuk menguasai kepemilikan 100 persen di Inalum sekitar US$ 700-800 juta. Menurut Mustafa, dana itu akan dipenuhi dari 3 BUMN yang sudah berniat untuk memfasilitasi.

Ketiga BUMN itu adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Nantinya, ketiganya akan menopang Antam yang masuk secara teknis sebagai wakil pemerintah.

"Ketiganya ini kelihatannya cukup kuat, baik pada diri sendiri atau pada institusi mereka, maupun back up sumber pendana lain, apakah bank atau sindikasi bank. Poin di sini, Secara financial cukup kuat untuk pelimpahan andai 100% kepada Indonesia," ujarnya.

Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan yang bergerak dalam industri aluminium dengan kapasitas produksi sekitar 230.000-240.000 ton per tahun.

Pemerintah Indonesia menguasai kepemilikan sebesar 41,13 persen saham di perusahaan itu, sementara sisanya sebesar 58,87 persen dikuasai Jepang.

Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di sektor produksi aluminium. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang, dan Indonesia sendiri harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

(ang/dro)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads