Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, kebijakan utang ini dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap kurs, yang bisa membuat jumlah utang Indonesia semakin membengkak.
"Kalau kita lihat netto pinjaman luar negeri kita terus menurun, artinya pinjaman kita jauh lebih kecil dibandingkan kita membayar. Kita lebih mengutamakan SBN. Di dalam negeri untuk mengurangi risiko terhadap kurs," ujar Hatta saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (19/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu menunjukkan tingkat pengelolaan utang kita yang sangat prudent dan terjamin," tegasnya.
Apabila memang terpaksa untuk menarik pinjaman luar negeri, Hatta ingin pinjaman yang biayanya rendah, sehingga tidak makin memberatkan di kemudian hari.
"Ya kita coba dikelola dengan baik jangan sampai ada sesuatu yang berkaitan dengan misalkan kementerian-kementerian ingin menggunakan kredit fasilitas pakai loan (pinjaman) yang bersifat berat dari segi refinancing-nya berat itu dikelola dengan baik," jelasnya.
Sedangkan, untuk rencana penerbitan surat utang Samurai Bond, Hatta yakin rencana tersebut berjalan mulus karena Jepang telah menjaminnya. Apalagi dengan peningkatan rating Indonesia yang telah mencapai investment grade, tentunya akan meringankan beban utang Indonesia.
"Kalau itu (Samurai Bond) kan baik karena dijamin oleh Jepang. Apalagi sekarang Jepang telah menempatkan Indonesia dalam investment grade maka beban akan makin menurun," tukasnya.
(nia/dnl)










































