Demikian disampaikan Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga kepada detikFinance ketika ditemui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (19/7/2010).
"Bisa jadi kita ikut masuk, tapi nanti kalau ditawari sampai sekarang belum ditawari kok," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalaupun masuk ya kan tidak bisa langsung, harus dengan membeli surat utang atau instrumen lainlah," katanya.
Namun, Hotbonar menegaskan, pihaknya terlebih dahulu akan melakukan kajian sebelum ikut masuk membiayai akuisis Inalum. "Nantilah, sebelum masuk kan kita lakukan kajian terlebih dahulu karena kan porsi direct investmen yang ditentukan hanya 5% jadi harus dipilah-pilah penempatan dananya," ungkapnya.
Seperti diketahui PT Bahana Pembinaan usaha Indonesia (BPUI) mengajak PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) untuk mendanai akuisi 58,88% saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Bahana merupakan salah satu perusahaan pembiayaan milik pemerintah yang ditunjuk oleh kementerian BUMN untuk membiayai akuisi senilai US$ 700-800 juta tersebut.
Selain Bahana, BUMN juga menunjuk PT. danareksa dan perusahaan Pengelola Aset (PPA). Sementara itu, PT Antam Tbk (ANTM) hanya bertindak sebagai eksekutor dan operator inalum nantinya.
Meski demikian, Antam juga diharapkan dapat membantu pendanaan akuisi. Saat ini, pemerintah Indonesia menguasai 41,12% saham Inalum, sedangkan Nippon Asahan Aluminium Co Ltd dari Jepang Memiliki 58,88% saham.
(dru/dnl)











































