Menperin: Industri Kertas RI Ramah Lingkungan

Menperin: Industri Kertas RI Ramah Lingkungan

- detikFinance
Selasa, 20 Jul 2010 14:51 WIB
Pekanbaru - Menteri Perindustrian MS. Hidayat meyakini seluruh pengusaha kehutanan terutama yang bergerak di sektor kertas dan bubur kertas tidak merusak hutan seperti yang dituding berbagai LSM internasional.

"Pemerintah akan membantu seluruh pengusaha kehutanan yang tidak melakukan apa yang dituding LSM Internasional terkait isu lingkungan. Asalkan perusahaan tersebut melakukan proses produksinya secara proper," ujar MS. Hidayat di sela-sela kunjungannya ke pusat penelitian dan pengembangan APRIL Technology Center (ATC) di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, Selasa (20/7/2010).

Menperin juga meminta kepada seluruh elemen pemerintahan di Riau dan pusat, untuk memberikan rasa aman serta mewujudkan iklim investasi yang kondusif kepada pengusaha nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara khusus, Menperin juga meminta seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpengaruh berbagai kampanye negatif yang dilakukan sejumlah lembaga internasional terhadap aktivitas perusahaan di sektor kehutanan.

Pasalnya, kampanye negatif tersebut jika diserap mentah-mentah, dapat merusak iklim investasi yang pada akhirnya bisa berdampak pada melemahnya daya saing industri lokal.

"Dengan adanya rasa aman dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, pengusaha nasional dapat meningkatkan daya saingnya dengan perusahaan multinasional," ujar M.S. Hidayat.

Ia menambahkan, selain meningkatkan daya saing, iklim investasi yang kondusif juga dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja khususnya yang berada di daerah. Otomatis, tingkat pendapatan per kapita akan semakin meningkat dan pada akhirnya, setoran pajak ke pemerintah akan semakin besar.

Menperin juga menyampaikan apresiasinya kepada PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), anak usaha APRIL Internasional, yang telah menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan daya saing perseroan dalam menyikapi persaingan global, di antaranya dengan mendirikan ATC, yang merupakan pusat penelitian dan pengembangan kertas dan bubur kertas terbesar se-Asia Tenggara.

"Dengan didirikannya pusat penelitian dan pengembangan ATC ini, saya berharap sektor industri kertas dan bubur kertas Indonesia bisa menghasilkan produk yang berkualitas di kancah global, serta dapat menjadi begian solusi dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia," tuturnya bangga.

Senada dengan Menperin, menurut Presiden Direktur APRIL Riau Kusnan Ramin, pendirian ATC yang memiliki sekitar 100 peneliti dari berbagai bidang keilmuan tersebut, juga bertujuan sebagai pusat inovasi untuk menghasilkan bibit pohon eucalyptus dan akasia yang berkualitas serta menjaga kelestarian hutan yang berkelanjutan (sustainability development).

Untuk diketahui, pusat penelitian dan pengembangan ATC yang dibangun di lahan seluas 7.500 m2 dengan luas bangunan 5.436 m2 itu, memiliki sejumlah fasilitas, diantaranya seperti Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Tanah & Pupuk, Laboratorium Hama & Penyakit, Laboratorium Peningkatan Produktivitas Pulp, Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, FiberOne untuk penerapan 'Best Practice' dalam pengelolaan hutan tanaman lestari, serta Ruang Konferensi, Pertemuan dan Fasilitas Umum lainnya.

"ATC kami tujukan sebagapusat inovasi untuk mencari cara yang efektif dan efisien dalam menghasilkan dan menanam bibit pohon eucalyptus dan akasia yang berkualitas serta meningkatkan produktivitas kertas dan bubur kertas yang dihasilkan. Sehingga, pada akhirnya daya saing perusahaan dapat meningkat namun tetap memperhatikan kelestarian hutan," tegas Kusnan.

Saat ini, seluruh area konsesi APRIL melalui anak usahanya PT RAPP telah menyerap secara langsung sekitar 10 ribu tenaga kerja dan sekitar 50 ribu tenaga kerja secara tidak langsung. Kapasitas terpasang produksi pulp perseroan sebesar 2,3 juta ton per tahun dengan kapasitas terpasang produksi kertas mencapai 750.000 ton per tahun.

Hasil produksi pulp dan kertas APRIL selama ini di ekspor ke 60 negara dengan nilai sebesar US$ 2,5 miliar per tahun.

Dalam menjaga kelestarian hutan yang berkelanjutan, APRIL selama ini telah melakukan penanaman kembali bibit tanaman sebagai bahan baku kertas dan bubur kertas sebanyak 500.000 bibit pohon per hari.

(cha/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads