"Saat ini industri kertas ada di Indonesia bagian barat. Ke depan kita sudah merencakan pengembangan ke timur. Daerah yang paling tepat adalah Papua karena potensi hutannya masih memungkinkan," kata Hidayat.
Pengembangan tersebut, katanya, tentu tetap mengedepankan terkait masalah lingkungan seperti isu ecolabel di pasar dunia. "Pengembangan ini guna pemanfaatan sumber daya alam secara efektif dan efesien tanpa mengorbankan lingkungan serta kemampuan pembangunan oleh generasi yang akan datang," kata Hidayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat merincikan, pada tahun 2009, terdapat 14 industri pulp dengan kapasitas 7,9 juta ton per tahun. Sekitar 81 industri kertas dengan kapasitas 12,17 juta tonย per tahun. Realisasi produk pulp dan kertas pada tahun yang sama masing-masing sebesar 6,52 juta ton dan 9,31 juta ton. Sedangkan untuk ekspornya masing-masing sebesar 2,244 juta ton dengan nilai sebesar US$ 867.364. Sedangkan kertas 4,093 juta ton dengan nilai US$ 3.061.696.
"Kondisi tersebut menempatkan indonesia peringkat 9 produsen terbesar pulp dunia. Dan peringkat 11 produsen terbesar kerta dunia," kata Hidayat.
Dia menjelaskan, dalam tahun 2010 ini beberapa permasalahan yang diperkirakan masih berlanjuut dan dihadapi pulp dan kertas masih cukup banyak. Misalnya realisasi pembangunan Hutan Tanaman Industri yang belum memadai. Berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik dan benar.
"Di sini juga masih terbatasnya penguasaan teknologi di bidang industri pulp dan kertas, terutama di bidang rancang bangun dan perekayasaan pemesinan industri pulp and paper," kata Hidayat.
(cha/dnl)










































