Di berbagai negara program semacam ini sudah berjalan dan sukses dalam mendorong penghematan listrik dan menekan pemanasan global. Seperti di China, India, dan Filipina.
Ketua Umum Aperlindo John Manoppo mengatakan setelah rencana program bagi-bagi LHE sebanyak 51 juta di 2008 gagal. Kini pemerintah belum ada tanda-tanda merealisasikan program semacam itu, meski pada tahun 2009 lalu PLN sudah memulai dengan 50.000 LHE.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, negara maju seperti China saja telah menggulirkan program sejenis untuk 90 juta unit LHE per tahun dengan anggaran US$ 90 juta per tahun. Sementara anggarannya US$ 20 juta dari Bank Dunia dan US$ 70 juta dari pemerintah China.
"Yang menarik bukan pemerintahnya sendiri yang modalin, tapi minta sumbangan dari World Bank, padahal status negara mereka mampu tapi tetap minta. Nah, kalau kita...?," katanya.
Selain itu program serupa juga dilakukan oleh pemerintah Filipina yang menggulirkan 13 juta LHE gratis bagi masyarakatnya, yang pendananaanya dari Asian Development Bank (ADB).
Di India pun tak mau kalah, hingga kini negeri hindustan tersebut telah membagikan 400 juta LHE bagi masyarakat miskin, di mana per tahunnnya mencapai 100 juta unit LHE.
"Kalau kita belum ada action, padahal Presiden di majelis umum PBB tahun 2009, meminta masyarakat dunia agar mulai bertindak nyata dalam menanggulangi pemanasan global dan perubahan iklim," jelasnya.
John mengaku telah berapa kali mengajukan program semacam ini ke kementerian ESDM dan PLN namun belum ada hasil.
Padahal kata dia, berdasarkan konsep yang diajukan Aperlindo jika Indonesia berhasil memberikan 100 juta lampu LHE (satu orang 3 LHE) sebagai pengganti lampu pijar maka akan ada penghematan energi Rp 8 triliun secara ekonomis dengan net saving Rp 3,1 triliun.
"Saya rasa momen kenaikan TDL dan pemanasan global bisa menjadi alasan kuat terhadap program ini," tukasnya.
(hen/dnl)











































