Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan menjelaskan, Jam 9.30 WIB, trafo arus (current transformer/CT) pada trafo 150/20 kV (sebuah alat yang dipasang di atas trafo) pecah (meledak). Akibatnya trafo tersebut tidak berfungsi.
Akibat tidak berfungsinya trafo tersebut, lanjut dia, mengakibatkan hilangnya beban yang mengakibatkan pembangkit-pembangkit listrik di Muara Karang berhenti beroperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dahlan, akibat matinya pembangkit-pembangkit di Muara Karang, terjadi kehilangan daya sebesar 750 MW, suatu jumlah yang amat besar untuk sistem Jakarta.
Hanya satu pembangkit di Muara Karang yang masih tetap bekerja dan menghasilkan listrik sebesar 80 MW yang tetap disalurkan kepada masyarakat.
"Karena itu satu persatu pembangkit dihidupkan kembali. Namun beberapa prosedur harus dijalankan lebih dulu sebelum menghidupkan pembangkit. Yakni prosedur tetap di mana setiap pembangkit mati harus diadakan pemeriksaan yang saksama secara menyeluruh lebih dulu sebelum dihidupkan kembali. Lamanya pemeriksaan bervarisasi tergantung kondisi pembangkit," jelas Dahlan.
Kemudian, pada pukul 12.00 WIB salah stau pembangkit sudah berhasil dihidupkan dan menyalurkan listrik ke masyarakat.
Dua jam kemudian satu pembangkit lagi berhasil dihidupkan. Yang lain-lain menyusul sehingga pada pukul 18.00 sebagian besar pembangkit sudah berhasil dihidupkan.
Satu pembangkit gagal dihidupkan kembali dan harus kembali melalui prosedur pemeriksaan dari awal. Sedang satu pembangkit lagi memang sedang dalam masa perawatan rutin.
"Itulah sebabnya listrik tidak bisa serentak dihidupkan kembali," tambahnya.
CT yang meledak/pecah tersebut bikinan ABB (Eropa). Sejak tahun 2005 sudah terjadi 9 kali CT yang sama meledak di seluruh Jawa. CT tersebut selalu dicek setiap dua tahun sesuai dengan standar pengecekan. Hasil pengecekan terakhi 2008 ditemukan dalam keadaan baik.
Pengecekan selama 2 tahun sekali itu sudah dianggap baik karena di negara lain pengecekan seperti itu dilakukan setiap 4 tahun. Life time CT seperti ini 20 tahun, sehingga CT yang meledak ini masih dalam batas life time.
"Penyebab meledak/pecahnya CT Trafo 150/20 di Muara Karang masih diteliti, tapi secara teori ada beberepa penyebab yang disebut electronic stress, yang penyebabnya bisa saja stress karena kimia (udara bergaram?), atau stress guncangan atau stress karena kepanasan," kata Dahlan
Masih ada sebagian kecil wilayah Muara Karang yang akan mati listrik sampai dinihari nanti, karena perbaikan trafo yang memang memerlukan waktu. Trafo yang meledak itu akan dibongkar untuk dikeluarkan dari tempatnya dan diisi dengan trafo baru yang dicarikan dari tempat lain.
Pemindahan ini memakan waktu sampai subuh nanti karena satu trafo beratnya sampai 100 ton. Setelah pemindahan dan pemasangan ini selesai, semua pemadaman bisa teratasi.
Meskipun hampir semua pembangkit di Muara Karang sempat mati, sebenarnya pemadaman bisa hindari kalau sistem trafo/gardu induk di Jakarta dalam keadaan sempurna. Dengan sistem trafo yang sempurna, kekurangan daya di suatu tempat di Jakarta bisa diisi dari tempat lain. Tapi kondisi trafo di Jakarta sangat pas-pasan. Harus diadakan trafo-trafo baru.
"Kami sebenarnya sudah melakukan pembelian baru, tapi kami sangat menyesal karena dalam pengadaan trafo lima bulan yang lalu kami tidak berani melakukan pembelian langsung (penunjukan langsung) dari pabrik trafo di luar negeri. Kami, waktu itu, akhirnya memang memutuskan bahwa pengadaan trafo harus melalui tender sehingga memakan waktu. Saat ini trafo-trafo yang dibeli dengan tender tersebut masih dalam status pembuatan dan baru akan terpasang bulan Oktober tahun ini. Kalau saja kami berani mengambil resiko membeli langsung ke pabrik maka trafo tersebut sudah terpasang saat ini dan kejadian seperti ini akan terhindarkan," kilah Dahlan.
Dahlan menyesal dirinya tak berani mengambil risiko dalam pengadaan trafo. Akibatnya justru pemadaman masih terjadi lagi.
"Kalau saja tahu resikonya seperti ini kami akan mengambil resiko tersebut meskipun bisa berakibat masuk penjara. Sebab kesengsaraan akibat kejadian seperti ini sangat menyusahkan jutaan orang," kata Dahlan.
"Kami mohon doa restu setelah kejadian ini tidak ada lagi peristiwa yang sama sampai bulan Oktober tahun ini. Yakni ketika trafo-trafo yang kami beli melalui lelang lima bulan yang lalu, sudah tiba di Jakarta dan sudah terpasang untuk menambah kapasitas di Gandul, Cawang, dan sekitarnya. Kami mohon maaf atas kejadian ini," tukasnya.
(epi/dnl)










































