"Berdarah-darah kelompok petani kita hasil panenya jadi tahun ini, walaupun hujannya tidak mau berhenti. Tapi sayang Dolog membeli harga tani dibawah harga standar pemerintah. ini yang menjadi persoalan. Kalau Dolog memang tidak sanggup lagi lebih baik kita bubarkan saja itu," kata Syahrul.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sambutan 'Pekan Serelia Nasional 2010' di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Sereal, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Senin (26/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil tani yang dibeli dolog, ujarnya, jauh dari harga standar yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 2.650. Namun Dolog membeli dengan harga Rp 2.200 per kilo-nya.
"Semua butuh beras, sekarang berasnya tersedia dolognya main-main lagi, lebih baik dibubarkan saja. Stock ini bukan untuk siapa-siapa, ini untuk bangsa dan negara. Kami memberi makan 18 provinsi dari Sulawesi Selatan, kalau harga gabahnya diberi dari 2.650 mereka (Dolog) cuma beli 2.200. Ini cilaka," seloroh Syanrul yang kembali mengundang riuh pengunjung.
"Beras nggak bisa ditunda, kalau rumah bocor masih bisa ditunda, jalan berlobang boleh lah ditunda, beras ditunda tidak bisa orang makan," imbuhnya.
Mendengar keluhan tersebut Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono mengatakan, pihaknya berharap Bulog perlu memperhatikan kesejahteraan petani.
"Kalau toh kualitas agak kurang baik, Bulog diberi alat oleh negara berupa UPGB (Unit Pengolah Gabah dan Beras, cukup banyak dan banyak yang tidak berfungsi optimal," katanya.
Bulog, sambungnya, selain peran PSO (Public Service Obligation), jga diberikan peran komersil. "Tentu saja fungsi komersil masih bisa dilakukan. Sementara tidak usah dibubarkan dulu, mudah-mudahan ini bisa memacu semangat kinerja Bulog," pungkasnya.
(ahy/ang)











































