Karyawan PT Pertamina yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) mendukung dan meminta Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan tetap tegar dalam menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Terutama dalam kasus maraknya ledakan tabung elpiji 3 kg dan kualitas BBM produksi BUMN minyak itu.
"Kami meminta Ibu Karen untuk tetap tegar dan istiqomah dalam menyikapi masalah ini, dan yakinlah Tuhan senantiasa melindungi niat baik kita, dan pekerja Pertamina mendukung sepenuhnya upaya perbaikan berkelanjutan yang telah dicanangkan termasuk mendukung setiap upaya melawan gangguan dari pihak manapun," kata Presiden FSPPB Ugan Gandar dalam siaran persnya, Kamis (29/7/2010).
Ia bersama karyawan Pertamina lainnya juga meminta semua pemangku kepentingan seperti Kementerian ESDM, Perindustrian, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan Sertifikasi Nasional, POLRI, serta Pemerintah Daerah dapat bersama-sama mengambil peran sesuai fungsi dan tanggungjawabnya masing-masing dalam mengelola program konversi minyak tanah ke elpiji sebagai bagian dari penugasan negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pekerja Pertamina itu ada dan tidak lagi dapat diperlakukan secara semena-mena oleh siapapun," ujarnya.
Ia juga meminta para pihak yang berperan sebagai makelar, provokator, oportunis, pihak yang mengaku konsultan hebat, atau pihak yang merasa paling penting di negeri ini untuk tidak berniat mengail di air keruh terhadap permasalahan yang terjadi.
"Lebih baik mari bersama-sama melibatkan diri untuk membangun peradaban yang lebih baik menuju masyarakat madani," katanya.
Pemerintah bersama badan-badan intelijen negara, lembaga-lembaga keamanan nasional didesak karyawan Pertamina untuk bekerja keras untuk mengungkapkan apakah ada desain besar di balik semua kejadian ini.
"Seluruh stakeholder bangsa harus melihat permasalahan yang terjadi secara holistik tanpa mengedepankan rasa saling curiga, saling menyalahkan, politik adu domba atau niat ingin menghukum secara membabi-buta yang kesemuanya itu adalah penyakit (sifat buruk) warisan kolonial yang tidak perlu dipelihara," imbuhnya. (ang/dnl)











































