"Kita sudah anjurkan kepada para pengemudi untuk beralih ke bahan bakar lain," kata Direktur Utama PT Putra Transpor Nusantara Mubha Kahar Muang di kantornya Tanjung Barat, Jakarta, Jumat (30/7/2010).
Mubha menjelaskan prinsipnya pihaknya tak mewajibkan pengalihan tersebut, namun hanya menganjurkan saja. Menurutnya jika pengemudi yang beralih ke BBM non subsidi seperti di Pertamina maupun Shell maka akan mempengaruhi pendapatan para supir taksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku dari 1.450 armada yang dimiliki Taksi Putra, saat ini sudah 75,86% armada yang mengalami kerusakan fuel pump. Pada bulan Juli saja sudah ada 1100 armada yang rusak fuel pump-nya.
Padahal pada bulan Juni hanya 400 fuel pump yang rusak, Mei sebanyak 74, April ada 118, Maret ada 92, Februari ada 84, dan Januari sebanyak 68. Kerugian yang ditanggung oleh pihaknya beberapa bulan terakhir mencapai Rp 1,2 miliar.
"Tren fuel pump rusak mulai naik sejak 12 Juni," katanya.
Sehingga mulai saat ini ia membebaskan kepada supir taksinya untuk bebas beralih ke BBM lain. "Kita pakai Shell, kalau tidak kita tak bisa bekerja," tambah Jesman salah satu supir.
Sementara itu Amrozi salah satu supir Taksi Gamya ditemui detikFinance di SPBU 34-12505 Tanjung Barat, mengakui pihaknya perusahaannya akan menyarankan penggunaan BBM non subsidi termasuk dari SPBU Shell khususnya pasca ramainya kerusakan fuel pump.
"Rencananya sih dari perusahaan mau pindah ke Shell," katanya. (hen/dnl)











































