Omset Pedagang Pakaian Melonjak 100%

Omset Pedagang Pakaian Melonjak 100%

- detikFinance
Minggu, 01 Agu 2010 17:25 WIB
Jakarta - Jelang 10 hari sebelum puasa, masyarakat Jakarta beramai-ramai mendatangi pasar Tanah Abang untuk membeli bermacam pakaian. Penjual pun mengaku omsetnya naik dua kali lipat, dan bahkan ada yang mencapai Rp 20 juta per hari.

Berdasarkan pantauan detikFinance di pasar Tanah Abang Jakarta, Minggu (1/8/2010), masyarakat berjelal masuk dan keluar, untuk membeli perlengkapan pakaian jelang bulan Ramadhan. Salah satu pedagang pakaian muslim, Dedi, menyatakan omset tokonya naik hingga dua kali lipat dari sebelumnya Rp 10 juta per hari menjadi Rp 20 juta per hari.

"Pengunjung naik dua kali lipat. Omset juga, dari hari biasa kita Rp 10 juta per hari," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal yang sama juga disampaikan pedangang batik Okky. Dirinya mengaku terdapat peningkatan penjualan batik, khususnya yang akan dijual kembali ke
luar kota, bahkan luar pulau Jawa.

"Kita kan biasa grosir ya. Ya ada peningkatan, dari biasanya ya ada Rp 10 juta. Naik 30% ada," ungkap Okky.

Jelang 10 hari datangnya bulan Ramadhan, terlihat masyarakat banyak menyerbu pakaian muslim dan aksesorisnya. Apalagi sebagaian pemilik toko menyediakan
harga khusus, dari Rp 15 ribu sampai Rp 35 ribu per potong pakaian.

"Kalau kami kan pakaian kantor. Jadi paling naik ga banyak. Yang banuak itu(pakaian) muslim," jelas Edi, penjual lain yang ditemui detikFinance.

Produk Pakaian  Impor Lawan Berat

Untuk mensiasati membanjirnya pakaian impor asal China jelang bulan Ramadhan ini, para penjual di pasar Tanah Abang rela untuk memproduksi sendiri produk dagangannya. Alasan utama adalah agar harga bisa kompetitif.

"Kita produksi sendiri karena kita bisa mainkan harga (diskon). Selisih
untungnya pun bisa 50% lebih tinggi dibanding kita ambil jadi," tambah Dedi.

Ia menambahkan, dengan masukkan pakaian jadi dari luar negeri menjadi kekhawatiran sendiri. Pasalnya, harga jual pakaian impor yang ditawarkan, sudah lebih murah dari harga produksi satu potong pakaian.

"Kalau produksi kita bisa kira-kira abisnya berapa. Lagi pula untuk pakaian muslim seperti ini, Cina agak kalah. Karena kita tahu selera masyarakat,"
kata Dedi.

Menurutnya, produk impor  Cina khususnya yang berjenis kemaja, t-shirt atau jeans, menjadi pesaing utama produk lokal. Dengan model yang sama-sama mengadopsi trend fashion dunia, sulit bagi konveksi lokal untuk bersaing dari sisi biaya produksi.

"Mereka, yang tadinya bikin, bisa langsung ambil jadi aja. Produk Cina jual saja sudah Rp 40 ribu, Kalau lokal, Rp 60 ribu baru ongkos produksinya aja.
Pasti tutup," imbuhnya.

"Lebih banyak (pakaian) yang model-model ABG. Tapi kita juga kena di aksesoris, kayak batu-batu dan payet-payet, dari sana (Cina). Mereka udah
murah 30% sendiri," pungkasnya.

(wep/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads