Jepang Suntik US$ 16 Juta untuk Pabrik Bioethanol PTPN X

Jepang Suntik US$ 16 Juta untuk Pabrik Bioethanol PTPN X

- detikFinance
Senin, 02 Agu 2010 10:15 WIB
Jakarta - Jepang melalui New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) memberikan hibah berupa peralatan mesin pengolah molases (tetes gula) menjadi bioethanol senilai US$ 16 juta.

Proyek ini akan dilaksanakan melalui proyek pembangunan pabrik bioethanol oleh PTPN X melalui kerjasama G to G, totalnya menelan dana hingga US$ 26 juta.

"NEDO memberikan grant (hibah) sebesar US$ 16 juta dan pihak Indonesia diwakili oleh PTPN X memberikan kontribusi sekitar US$ 9 juta," kata Sekjen Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana dalam acara MoU antara Indonesia dengan NEDO Jepang, di kantor Kemenperin, Senin (2/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus menjelaskan proyek bantuan ini sebagai pilot project terhadap pengembangan pengolahan molases yang merupakan hasil sampingan dari pabrik gula. Jika proyek ini berhasil, tidak menutup kemungkinan proyek serupa akan diterapkan pada bagasses hasil olahan sawit menjadi bioethanol.

"Kedepannya energi terbarukan bukan lagi sebagai energi alternatif tapi sebagai sumber energi utama," katanya.

Ia menjelaskan proyek ini akan menghasilkan 30.000 kiloliter Bioethanol per tahun dengan memanfaatkan 200.000 ton molases di pabrik gula Gempolkrep Mojokerto miliki PTPN. Jika dihitung per hari maka produknya mencapai 6-7 liter per detik.

"Rencananya tahun 2011 sudah mulai ada pembangunan, dan sudah bisa diproduksi tahun 2013. Kita juga kerjasama dengan Pertamina," tambah Direktur Kimia Hulu Alexander Barus ditempat yang sama.

Sementara itu, Dirut PTPN X Subiyono mengatakan proyek ini pada awalnya melalui kajian dua pabrik gula lainnya yaitu PTPN VII dan PTPN XI, namun yang dipilih PTPN X karena dianggap refresentatif.

"Kita punya hasil 200.000 ton molases, dengan diolah jadi bioethanol akan memberikan nilai tambah yang besar," jelas Subiyono.

Chairman NEDO Seiji Murata menambahkan melalui kerjasama ini pihak NEDO hanya memberikan bantuan peralatan dan melakukan pemasangan di pabrik. Pihaknya menggunakan dua perusahaan asal Jepang untuk melakukan pemasangan.

"Teknologi yang diberikan ini fleksibel bisa menyesuaikan bahan baku yang tersedia," kata Seiji.

(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads