Menurut Sekretaris Jenderal Kemenhub M Ikhsan Tatang, Indonesia sebagai bagian dari komunitas penerbangan internasional memerlukan strategi khusus untuk mengurangi emisi gas buang. Program pengurangan emisi ini merupakan bagian dari rencana International Aviation and Climate Change (ICAO).
"Kita kan sebagai anggota ICAO yang tunduk pada programnya. Sudah melakukan beberapa hal, peningkatkan efisiensi semakin penting dalam program ini," ujarnya dalam seminar aviasi dan perubahan iklim di Hotel Nikko, Jalan M Thamrin, Jakarta, Senin (2/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pemerintah sendiri sudah melakukan beberapa upaya seperti menetapkan regulasi mengenai teknologi yang digunakan oleh maskapai harus ramah lingkungan. Tidak hanya teknologi pesawatnya, tetapi juga teknologi penunjang seperti alat navigasi.
"Penggunaan bahan bakarnya juga harus diperhatikan," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, staf khusus Kementerian Lingkungan Hidup Wendy Aritenang, rekomendasi yang diberikan oleh ICAO kepada Indonesia adalah fokus kepada efisiensi dan manajemen operasi maskapai dalam negeri.
"Jadi dengan manajemen yang bagus maka akan banyak penghematan, traffic control yang baik maka pesawat tidak perlu muter dulu jadi tidak mengkonsumsi lebih banyak BBM," ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi persaingan antar maskapai di Indonesia saat ini dinilai sangat mendukung upaya efisiensi maskapai. Hal ini membuat maskapai berlomba-lomba melakukan efisiensi supaya bisa bertahan hidup.
Secara keseluruhan, industri penerbangan Indonesia saat ini hanya menyumbang 3% dari total kontribusi pengurangan emisi industri transportasi sebanyak 51%. Transportasi darat merupakan pemberi konribusi terbesar.
"Tapi transportasi udara juga penting meski kontribusinya hanya 3% karena pembuangannya langsung di stratosfer. Tapi memang yang paling komit (mengurangi emisi) ya di sektor udara," kata Wendy.
(ang/dnl)










































