"Di Indonesia ini belum ada armada yang menggunakan biofuel, begitu juga kita (Garuda). Nanti akan terapkan secara bertahap, tapi tidak tahun ini," ujar Komisaris Garuda Wendy Aritenang di seminar aviasi dan perubahan iklim di Hotel Nikko, Jalan M Thamrin, Jakarta, Senin (2/8/2010).
Pada tahap awal, jumlah BBM biofuel yang bisa diterapkan di perusahaan pelat merah itu diperkirakan sebanyak 5%. Setelah itu, perlahan-lahan akan dinaikan sampai memenuhi ketentuan penerbangan Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu regulasi bagi maskapai yang ingin terbang ke Amerika Serikat adalah menggunakan avtur biofuel. Sehingga, jika Garuda tidak merealisasikan hal ini, penerbangan ke negeri Paman Sam itu akan sulit terlaksana.
Ia mengatakan, salah satu negara yang menjual avtur biofuel adalah Brazil dan Amerika Serikat. Pihak Garuda kemungkinan akan melakukan pembelian ke salah satu dari dua negara itu mengingat tidak ada yang menjual di Indonesia.
"Sebaiknya, bisa Garuda atau Pertamina bisa negosiasi dengan para penjual biofuel itu," ujarnya.
Ia mengatakan, beberapa negara di dunia juga sudah ada yang melakukan uji coba pesawat berbahan bakar biofuel, yaitu Jepang dan negara-negara di Eropa lainnya. Dipercaya, pesawat berbahan bakar biofuel akan lebiih efisien dalam menekan emisi karbon.
Maskapai Lokal Kesulitan Cari Biofuel
Maskapai dalam negeri kesulitan dalam mencari bahan bakar alternatif seperti biofuel dalam rangka membantu mengurangi emisi gas buang sesuai dengan niatan International Aviation and Climate Change (ICAO). Satu-satunya cara mendapatkan biofuel adalah membeli dari luar negeri, dengan harga yang jauh melebihi harga BBM.
"Kalau memang biofuel bisa didapat dengan sustainable (berkelanjutan) akan sangat signifikan mengurangi emisi transportasi udara," ujar Wendy.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada satu pun maskapai dalam negeri yang sudah memiliki pesawat yang bisa menggunakan biofuel. Maskapai tersebut bukannya tidak berusaha untuk membeli pesawat jenis tersebut namun memang infrastrukturnya tidak memadai, salah satunya tidak adanya pihak yang menjual biofuel untuk pesawat di Indonesia.
Ia mengakui, saat ini masih banyak maskapai dalam negeri yang menggunakan pesawat model lama yang sudah pasti efisiensi tidak sebaik pesawat-pesawat baru.
"Target kita kan bisa menekan efisiensi sampai 1,5% per tahun. Efisiensi paling besar bisa dilakukan dari manajemen maskapai itu sendiri," katanya.
Ia mengatakan, meski sedikit berbeda, pengurangan emisi dan polusi udara sangat berdekatan. Kualitas BBM yang dipakai mesin dan jenis BBM-nya sendiri akan mengurangi polusi udara sementara untuk mengurangi emisi CO2 bisa dilakukan dengan berbagai penghematan yang dilakukan oleh manajemen.
Salah satu program ICAO, adalah membuat peraturan guna mendukung pengurangan emisi gas buang dari pesawat terbang. Yang di dalamnya terdapat target untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM pesawat hingga 2% hingga tahun 2050.
(ang/dnl)











































