Demikian disampaikan Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (5/8/2010).
"Ini angka yang luar biasa karena dalam RKAP pertumbuhan produksi dari 2009 ke 2010 sebesar 7 persen. Ternyata malah di atas 4 persen jadi secara keseluruhan pertumbuhan semester I terhadap periode yang sama tahun 2009 sebesar 11 persen," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam produksi tersebut, realisasi kontribusi batubara di pembangkit turun menjadi 39 persen dari prognosa yang ditetapkan dalam RKAP sebesar 47 persen.
Realisasi itu lebih rendah dari RKAP karena molornya pengoperasian beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masuk program 10.000 Megawatt (MW) tahap I. Beberapa PLTU yang belum beroperasi yaitu PLTU Indramayu (2x300 MW), PLTU Rembang (2x300MW) dan PLTU Suralaya (1x600 MW).
Pada semester I-2010, PLN telah membakar batubara sebanyak 11,8 juta ton. Sementara dalam RKAP PLN konsumsi batubara diproyeksikan sebesar 13,9 juta ton.
"PLTU-PLTU tadi mudah-mudahan akan beroperasi pada semester II-2010," katanya.
Belum beroperasinya pembangkit-pembangkit tersebut, telah membuat PLN lebih banyak membakar bahan bakar minyak (BBM) untuk memproduksi listriknya.
Realisasi kontribusi BBM terhadap produksi listrik PLN naik dari rencana semula 16 persen dalam RKAP menjadi 21 persen sepanjang semester I-2010 ini.Realisasi volume konsumsi BBM yang digunakan PLN sebanyak 4,7 juta kiloliter atau naik dari rencana dalam RKAP PLN sekitar 3,4 juta kiloliter.
"Kenaikan ini disebabkan dua hal yaitu BBM menggantikan PLTU yang belum produksi. Selain itu, BBM ini juga untuk menutupi pertumbuhan konsumsi yang sangat tinggi," jelasnya.
Sementara untuk gas alam berkontribusi 25 persen terhadap total produksi listrik semester I sebesar 83,3 Twh. Di mana total konsumsi gas di pembangkit sebesar 156 BCF. Sedangkan peran panas bumi pada produksi listrik perseroan mencapai 6 persen dan air berkontribusi sebesar 10 persen dari 83,3 persen.
"Ini sangat luar biasa karena air bisa di atas perkiraan sekarang ini kan harusnya puncak musim kemarau, tapi ternyata masih musim hujan sehingga PLTA bisa memproduksi lebih lama," ungkapnya.
(epi/qom)











































