Direktur Utama PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo menyatakan kondisi pencapaian laba PT Angkasa Pura I selama 3 tahun terakhir (2007-2009) rata-rata mengalami kenaikan 35,31% per tahun. Pada tahun 2009 perusahaan memperoleh laba (belum dikurangi pajak) mencapai Rp 664,072 miliar.
"Tahun 2009, laba bersihnya itu sekitar Rp 600-an (miliar)," ujarnya saat ditemui di Bali, Kamis (5/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laba tertinggi dicapai pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2007 dengan pertumbuhan 70,37%. Pada 2008, laba mencapai Rp 662,332 miliar," ungkapnya.
Untuk tahun 2010, Tommy menyatakan proyeksi laba yang ditargetkan PT Angkasa Pura I mencapai Rp 553,382 miliar. Jumlah ini lebih rendah Rp 38,72 miliar dibandingkan target dalam RKAP 2010 yang sebesar Rp 592,1 miliar. Tommy menjelaskan hal ini disebabkan kurs rupiah yang terus menguat.
"Kurs prognosa sebesar Rp 9.200 per dolar AS pada Juli 2010, sedangkan kurs RKA tahun 2010 sebesar Rp 10 ribu per dolar AS," ujarnya.
Selain itu, lanjut Tommy, terdapat beberapa penerbangan lintas pada beberapa airlines yang tidak terealisasi. Terdapat sekitar 14 penerbangan yang tidak berhasil terealisasi tersebut antara lain, British Airways, Air Asia, Air Celedonie, Air New Zealand, Air Nugini, Cathay Pacisific, China Airlines, China Aviation, Eastern Airlines, Eva Air, Jetstar, Malaysia Airlines, Qantas Airways, dan Royal Brunei.
"Tidak terealisasinya penerbangan lintas pada beberapa airlines, yang semula sudah diprogram dalam RKA tahun 2010," tandasnya.
Investasi Rp 701 Miliar
Untuk tahun 2010, PT Angkasa Pura I menargetkan investasi sebesar Rp 701,9 miliar. Total RKA Investasi tahun 2010 sebesar Rp 701,9 miliar yang terbagi dalam 3 program. Pertama, program investasi Air Traffic Services (ATS) sebesar Rp 97,074 miliar.
"Investasi ini pada bidang keselamatan dan keamanan penerbangan, seperti radar dan DME (Distance Measuring Equipment)," ujarnya.
Program kedua, lanjut Tommy, adalah program Investasi Non ATS sebesar Rp 471,83 miliar. Investasi untuk bidang keselamatan penerbangan dan keamanan, seperti Crash Car, Salvage Equipment, CCTV, dan Overlay Taxiway. Bidang pelayanan seperti VOA, Pompa sewage dan aerator, dan garasi. Selain itu, bidang produktivitas kerja, seperti truk tangki air.
Program ketiga adalah investasi pengembangan sebesar Rp 132,994 miliar. Jumlah ini untuk membantu pembangunan gedung terminal Bandara Ngurah Rai-Bali yang akan diperluas menjadi 126 ribu m2 untuk penerbangan internasional sehingga bisa menampung 14 juta penumpang per tahun. Perluasan Bandara ini, ungkap Tommy membutuhkan dana sekitar Rp 2 triliun yang akan ditutupi dari internal sebesar 50%, sisanya dari pinjaman perbankan.
"Selain itu, dalam investasi pengembangan, untuk RTT seperti jasa konsultasi baik konsultan perencanaan, manajemen konstruksi, dan konsultan hukum," pungkasnya.
(nia/qom)











































