"Pada tanggal 15 Juli (2010) di Hari Koperasi Presiden SBY menyatakan dukungannya terhadap peningkatan susu segar. Ini kesempatan untuk direalisir supaya mengurangi ketergantungan pemasaran susu ke Industri Pengolahan Susu," kata Ketua Umum Perhiytmpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Teguh Boediyana yang juga Ketua Dewan Persusuan, di Ragunan, Jakarta, Jumat (6/8/2010).
Teguh mengharapkan peningkatan produksi susu segar lokal harus dilakukan oleh pemerintah melalui pabrik pengelolaan susu yang dimiliki oleh koperasi. Selain itu pemerintah harus memanfaatkan produksi olahan tersebut menjadi produk susu gratis bagi siswa sekolah yang tak mampu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan sekarang ini Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sudah memiliki 3 pabrik pengolahan susu di Bandung, Boyolali, dan Jawa Timur. Kondisi ketiga pabrik tersebut masih idle alias tak terpakai berkapasitas 250 ton per hari, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan susu segar bagi anak sekolah miskin
"Jika diolah di situ maka bisa free bagi siswa, pemerintah harus menyiapkan anggaran," seru Teguh.
Saat ini kata dia produksi susu lokal per harinya mencapai 1500 ton per hari, sebanyak 98% dijual ke Industri Pengolahan Susu (IPS) untuk industri skala besar.
"Dengan adanya program ini justru akan meningkatkan rangsangan kepada rakyat untuk meningkatkan pasar," katanya.
Bahkan kata Teguh jika produksi susu segar lokal bisa ditingkatkan maka harga susu lokal akan semakin kompetitif. Saat ini harga susu impor setara susu segar sebesar Rp 4.100 per liter sementara susu lokal masih kompetitif yaitu Rp 3.800 per liter.
"Susu segara akan meningkatkan sumber daya manusia khususnya bagi siswa yang tak mampu, karena tak mampu membeli susu. Kalau tidak Indonesia akan kehilangan generasi," katanya.
(hen/dnl)











































