Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengatakan, usulan ini muncul karena saat listrik tiba-tiba padam di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jumat (6/8/2010) lalu, masyarakat langsung menyalahkan PLN.
Namun, pada dasarnya ia memaklumi kalau seluruh penumpang dan publik yang menjadi korban padamnya listrik di bandara Soekarno Hatta, Jumat lalu, menghujat PLN karena publik tentu tidak tahu bagaimana pengelolaan listrik di bandara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahlan dalam siaran persnya, Senin (9/8/2010).
Dahlan mengaku, pihaknya juga sudah menyampaikan tawaran ini kepada pemerintah. Jika pihak Angkasa Pura II menyetujui tawaran ini, maka PLN akan memperlakukan bandara sebagai lembaga vital, strategis dan sensitif.
"Untuk itu akan ada sistem khusus yang berlapis-lapis pengamanannya. Setidaknya tiga lapis," ungkapnya.
Pengamanan lapis pertama adalah memasok listrik ke bandara tidak akan hanya dari satu gardu induk (GI), tapi juga dari dua gardu induk yang berbeda.
Pengamanan lapis kedua, PLN akan menyediakan pembangkit khusus sebagai cadangan yang secara otomatis akan menggantikan daya listrik di bandara kalau pasokan yang sudah berlapis masih mengalami masalah.
Lapis ketiga, akan dipasang Uninterruptible Power Supply (UPS). UPS secara otomatis akan menggantikan tanpa kedip jika dua lapis pengamanan pertama dan kedua mengalami masalah.
Dahlan menyatakan, saat ini PLN juga sudah memiliki kemampuan untuk itu lengkap dengan standar peralatan, standar sistem, organisasi, prosedur dan personalianya. Termasuk prosedur pengetesan dan latihan. Instansi-instansi vital sekarang ini sudah menggunakan sistem ini sehingga sudah teruji.
Sistem ini oleh PLN juga sedang ditawarkan kepada konsumen strategis dengan skema khusus dan secara bertahap akan menjadi sistem nasional. Komplek gedung DPR/MPR, misalnya, sudah menggunakan sistem ini.
"Demikian juga pabrik semen Gresik sudah menyatakan akan menggunakan sistem pelayanan khusus dan sudah menyetujui skemanya," paparnya.
Meski begitu, lanjut Dahlan, PLN tidak akan memaksakan diri untuk mengelola kelistrikan di bandara Soekarno Hatta. Sebab, hal itu sepenuhnya menjadi wewenang pengelola bandara.
(epi/qom)










































