Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama Sarinah Jimmy M Rifai Gani di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (9/8/2010).
"Kita fokus di Sulawesi Tenggara, juga sudah lanjutkan pembicaran dengan BUMD di Sulawesi Barat dan Jawa Timur juga sudah lihat," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investasi untuk satu pabrik baru itu sekitar US$ 25-30 juta. Tapi kalau kita benahi yang sudah ada biayanya tidak akan lebih dari Rp 100 miliar," imbuh Jimmy.
Jimmy mengatakan, perseroan juga sudah mengamankan bahan baku untuk kakao dari berbagai penjuru nusantara. Sarinah sudah melakukan MoU dengan 5 pengusaha di daerah Sulawesi Tenggara.
Perusahaan milik negara itu juga sudah melakukan due diligence di beberapa perusahaan. Diharapkan, kajiannya bisa rampung di akhir tahun ini.
September tahun ini, ia mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Perdagangan akan mulai membuka pasar ke luar negeri, seperti Belgia, Inggris, dan Jerman.
"Nanti ada 2 fokus kita, satu biji coklat harus fermentasi dan kita coba pasarkan juga hasil industrinya, seperti bubuk coklat, dan cocoa butter," ujarnya.
(ang/dnl)











































