Demikian hal itu diungkapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (9/8/2010).
"Kita ingin Sarinah fokus kepada upaya untuk mempromosikan produk-produk nasional. Untuk itu kegiatan bisnis yang tidak sejalan dengan core business dari Sarinah akan semakin dikurangi dan kalau bisa dihilangkan. Contohnya minuman keras itu," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus bisa dikurangi sampai titik nol, sampai habis untuk menunjang promosi produk Indonesia terutama untuk mendukung tumbuh dan kembangnya sektor UKM," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Sarinah Jimmy M Rifai Gani, saat ini pihaknya memang sudah mulai mengurangi porsi bisnis minol. Dari sebelumnya bisnis minol memberi kontribusi sebanyak 45-50 persen kini hanya sekitar 20 persen.
"Porsinya kecil karena kuota berkurang, dari atas (Pemerintah) diatur seperti itu," ujarnya.
Ia mengatakan, hingga saat ini penyumbang pendapatan terbesar masih dipegang oleh sektor bisnis retail. Menurutnya, bisnis minol saat ini juga memang sudah tidak terlalu menjajikan karena margin yang didapat tidak lagi sebesar dulu.
Jimmy mengatakan, tahun ini Sarinah mendapat kuota impor minol sebanyak 40.000 karton jauh lebih kecil dari kuota tahun lalu sebanyak 190.000 karton.
"Realisasi tahun ini sampai 20.000 untuk semester I. Tahun depan kemungkinan minol turun 10 persen," ungkap Jimmy.
(ang/qom)










































