"Peningkatan tersebut mencerminkan kegiatan sektor riil yang semakin membaik. Prospek perekonomian Indonesia yang positif juga turut mempengaruhi kepercayaan asing untuk berinvestasi di dalam negeri," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah melalui pesan eletroniknya di Jakarta, Rabu (11/08/2010).
Β
Menurut Difi, peningkatan komitmen baru yang relatif tinggi dibandingkan 2009 terutama disebabkan terjadinya kontraksi selama semester I-2009 akibat krisis subprime mortgage.
"Kini, perolehan komitmen baru 2010 telah melebihi periode yang sama 2008 yang sebesar US$ 14,8 miliar di mana sebelum krisis subprime mortgage berdampak signifikan pada perekonomian nasional," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan antara lain disebabkan oleh kenaikan permintaan batu bara terutama dari China dan India, serta pembangunan beberapa proyek pembangkit listrik. Indikasi meningkatnya aktivitas sektor swasta juga tercermin dari komitmen baru yang mayoritas digunakan untuk modal kerja," jelas Difi.
Selama semester I-2010, mayoritas komitmen utang luar negeri baru sebesar 64,6%-nya diperoleh dari kreditor lainnya, sedangkan sisanya berasal dari perusahaan induk dan afiliasi yakni sebesar 35,4%.
"Hal ini mencerminkan minat investor kepada sektor swasta Indonesia semakin membaik meskipun tidak memiliki hubungan kepemilikan," tambah Difi.
Mayoritas komitmen baru selama semester I-2010 tersebut diterima dalam bentuk instrumen trade financing yakni sebesar 44,6% yang meningkat 65,2% dibandingkan akumulasi periode yang sama 2009.
Peningkatan komitmen baru trade financing sejalan dengan meningkatnya aktivitas impor non migas selama periode tersebut yang tercatat sebesar 41,9%.
(dru/dnl)










































