Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menyatakan pemerintah akan melakukan pasar murah di 10 provinsi di mana terdapat 4-5 titik pada masing-masing provinsi. Jadi, sekitar 50 titik se-Indonesia siap melaksanakan pasar murah.
"Kita akan lakukan operasi pasar dan pasar murah untuk daging di tempat di sentra konsumsi, pasar murah untuk daging sapi dan daging ayam dengan harga khusus," ujar Bayu usai rapat koordinasi tentang ketahanan pangan di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (11/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsentrasikan ke Jawa pada minggu ini. Menteri-menteri nanti juga ada yang ke Jawa Timur pada hari Sabtu-Minggu ini," ujarnya.
Pasar murah ini akan dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah setempat. Yang jelas, jelas Bayu, pasar murah ini tidak akan memberikan kerugian pada distributor. Hanya saja, keuntungan yang diperoleh mereka tidak akan sebesar jika berjualan di pasar.
"Kita mengawasi, mereka tetap untung tapi tidak dengan harga yang sekarang," ujarnya.
Bayu menjelaskan untuk daging rendang dan bistik impor yang dibeli dengan harga Rp 45-47 ribu, dengan penambahan margin keuntungan sekitar 15% seharusnya harga jualnya paling tinggi pada Rp 65 ribu.
Namun sayangnya, yang dijual di eceran bisa mencapai Rp 70 ribu. Dengan adanya pasar murah ini, para distributor menjual Rp 55-60 ribu. Begitu juga dengan daging sop, rawon, dan soto. Harga impornya hanya Rp 40-45 ribu. Seharusnya dengan margin 15%, harganya sekitar Rp 50 ribu, tapi dijual di eceran menjadi Rp 60-65 ribu.
"Mereka (distributor) tidak rugi tapi nggak untung sebesar dijual di eceran. Makanya mereka jual di normal profit saja untuk pasar murah ini. Ini tetap ditargetken untuk masyarakat berpendapatan rendah," pungkasnya.
(nia/dnl)











































