Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (12/8/2010).
"Naiknya jumlah nominal utang negara, menunjukkan sikap hiper aktif dan boros dari pemerintah dalam menerbitkan SBN (Surat Berharga Negara) yang tidak sebanding dengan realisasi penggunaan APBN yang masih rendah," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebijakan ini sepatutnya direvisi karena pengalaman menunjukkan kebijakan. Hiper aktif dalam menerbitkan SBN ini mengakibatkan terjadinya sisa anggaran di APBN pada 2 tahun terakhir yakni 2008 dan 2009," jelasnya.
Seperti diketahui, utang pemerintah Indonesia periode Januari-Juli 2010 tercatat sebesar Rp 1.625,63 triliun atau 26% dari PDB. Angka itu bertambah Rp 34,97 triliun dari posisi akhir tahun 2009 yang sebesar Rp 1.590,66 triliun. Secara persentase terhadap PDB memang utang Indonesia terus turun, namun secara nominal terus meningkat. (dnl/qom)










































