Demikian hasil survei The Nielsen Company (Nielsen) sebagaimana disampaikan Executive Director of Retail Measurement Services Nielsen dalam konferensi pers Nielsen Club di Mayapada Tower, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (12/08/2010).
Teguh memaparkan, selama bulan puasa dan lebaran masyarakat cenderung menghabiskan waktunya dengan belanja di pasar modern seperti supermarket, hypermarket dan minimarket.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belanja masyarakat di pasar modern terbesar adalah untuk kategori makanan. Bahkan, menurut Teguh penjualan makanan dan minuman meningkat 24% di Supermarket dan 19% di minimarket dibandingkan dengan rata-rata dibulan biasa.
Ia menambahkan, kategori makanan dan minuman yang paling laris adalah biskuit dan sirup. Pertumbuhan di supermarket dan hypermarket untuk biskuit mencapai 2 kali lipat dan 6 kali lipat untuk sirup.
"Justru yang menariknya, minuman ringan bersoda mencapai 50% peningkatannya dibanding bulan biasa," tuturnya.
Untuk kategori basah, sambung Teguh penjualan daging meningkat 3 kali lipat di bulan Puasa dan Lebaran di 2009. Tren di 2010, lanjut Teguh akan sama bahkan bisa 4 kali lipat.
Secara keseluruhan, belanja masyarakat selama bulan Puasa dan Lebaran tahun 2010 akan meningkat sampai 12%. Pada tahun 2009, konsumsi masyarakat mencapai Rp 18 triliun atau tumbuh 3% dari tahun 2008. Teguh Yunanto mengatakan membaiknya ekonomi tahun 2010 menjadi salah satu pendorong belanja masyarakat.
"Ditambah dengan tingkat kepercayaan atau confident yang juga membaik pada tahun 2010 ini," kata Teguh.
Ia mengatakan, belanja masyarakat pada tahun 2009 memang lebih lambat dibandingkan dengan tahun 2008. Tahun 2008 pertumbuhan belanja masyarakat selama Puasa dan Lebaran mencapai 19%. Menurut Teguh, di 2009 pertumbuhannya menurun dikarenakan dampak krisis global yang dirasakan di Indonesia.
"Puasa dan Lebaran Tahun 2009 saja penjualan daging mencapai Rp 20 miliar atau meningkat 3 kali lipat dibanding bulan biasa. Maka tahun ini ditargetkan akan jauh lebih meningkat," ungkapnya.
Ia mengatakan, kenaikan harga daging tahun ini diyakini tidak akan mempengaruhi belanja masyarakat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Indonesia sangat antusias dengan datangnya Ramadhan yang hanya satu tahun sekali.
"Bulan puasa dan lebaran, belanja masyarakat tidak berpengaruh terhadap kenaikan harga. Bahkan kenaikan TDL sekalipun, karena masyarakat sangat antusias menghadapi Ramadan," imbuhnya.
(dru/qom)











































