Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Operasi Pembangkit Indonesia Timur Vickner Sinaga dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Senin (16/8/2010).
"Kita sudah lepas pemadaman bergilir untuk Indonesia bagian timur. Sampai Januari kapasitas terpasang itu 1.700 MW, kita tambah lagi 410 MW selama 6 bulan ini," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, PLN juga sedang mengupayakan untuk kembali menambah daya di wilayah tersebut. Tahun ini, ditargetkan ada beberapa pembangkit yang akan mulai beroperasi, di antaranya 25 MW di Sulawesi Utara, 10 MW di Kendari, 7 MW di Ende dan 2,5 MW dari independent power producer (IPP).
"Tahun depan ada di Poso 200 MW di triwulan III karena mereka bangun transmisinya juga jadi agak lama," tambahnya.
Menurutnya, dari 133 sistem kelistrikan yang ada di wilayah Indonesia bagian Timur, sebanyak 83 sistem sebelumnya mengalami gangguan. Namun, 83 sistem itu kini sudah mulai beroperasi meski masih membutuhkan pengawasan intensif.
Sebanyak 48 sistem dari 83 sistem itu masih diawasi dengan cermat karena memiliki cadangan daya di bawah 10%. Sementara sisanya sudah memiliki cadangan 10-20%.
"Jadi istilahnya sudah keluar dari ICU, selang-selangnya sudah dicabut tapi masih harus diobservasi. Sesekali suster masih datang menengok," candanya.
Vickner mengatakan, rata-rata produksi listrik PLN di wilayah Indonesia timur saat ini mencapai Rp 2.000 per kwh. Namun, listrik tersebut hanya dijual seharga Rp 660 per kwh.
"Kita usahakan dengan munculnya beberapa pembangkit tahun ini kita bisa menjual listrik 12 miliar kwh sampai akhir tahun ini," jelasnya.
(ang/dnl)










































