"Penundaan itu bikin kami harus membakar BBM lebih banyak," ujar Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan di Shanghai, China, Senin (16/8/2010).
Adapun sejumlah proyek 10.000 MW tahap I yang tidak dapat beroperasi tepat waktu yaituΒ PLTU Indramayu (2x300 MW), PLTU Rembang (2x300 MW), dan PLTU Suralaya (1x600 MW).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PLN memperkirakan konsumsi BBM pada pembangkit-pembangkitnya akan melonjak ke level 9 juta KL atau 42,85% di atas target yang ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran perseroan (RKAP) PLN sebesar 6,3 juta KL.
Selain tertundanya sejumlah proyek 10.000Β MW tahap I, lanjut dia, lonjakan konsumsi BBM juga didorong oleh penurunan pasokan gas untuk PLGTU Muara Tawar sebesar 100 juta kaki kubik per hari sejak bulan Maret lalu.
"Karena kehilangan gas itu, kami harus menambah konsumsi BBM 1,1 juta KL sepanjang tahun ini," jelasnya.
Soal penyelesaian kekurangan pasokan gas ini, Dahlan mengaku dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini, PLN tengah menunggu penyelesaian terminal LNG terapung yang akan dibangun konsorsium PGN dan Pertamina di teluk Jakarta.
"Kami tunggu receiving terminal saja," ungkapnya.
Dahlan sendiri memaklumi jika dalam penyelesaian masalah penurunan pasokan gas dari PGN beberapa waktu lalu, pemerintah lebih mengutamakan kebutuhan untuk kalangan industri daripada untuk PLN.
"Kalau saya jadi pemerintah saya juga akan putuskan seperti itu. Karena kalau itu dikasih ke PLN, maka sekian ribu industri akan berhenti beroperasi dan akan ada pemecatan besar-besaran. Itu kan di luar kontrol pemerintah. Kalau PLN gasnya dikurangikan tidak masalah, karena peningkatan biaya operasi itu bisa diganti subsidi," paparnya.
Sementara itu, untuk membebaskan Indonesia dari pemadaman bergilir, PLN membutuhkan tambahan bakar 300 ribu KL. "Itu tambahan yang kita butuhkan dari akhir Juni kemarin hingga akhir tahun," tambahnya.
(epi/dnl)











































