Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan pihaknya tetap mempersiapkan anggaran untuk cadangan risiko fiskal jika indikator-indikator dalam asumsi makro tidak tercapai. Indikator-indikator tersebut adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, suku bunga SBI 3 bulan, harga minyak mentah Indonesia (ICP), dan lifting minyak.
"Kita itu ada cadangan risiko fiskal, sampai kalau ada cadangan untuk pertumbuhan, cadangan untuk kurs, inflasi itu kita ada, tapi angkanya lupa," ujar Agus Marto saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (18/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi yang saya ingat itu cadangan untuk pertumbuhan kira-kira Rp3,5 triliun tapi ada cadangan-cadangan yang lain," ungkapnya.
Dalam nota keuangan dan RAPBN 2011 disebutkan, apabila pencapaian pertumbuhan ekonomi lebih rendah 1% dari angka yag diasumsikan, maka tambahan defisit diperkirakan berada pada kisaran Rp 4,4-4,9 triliun.
Sedangkan apabila nilai tukar rupiah rata-rata per tahun terdepresiasi sebesar Rp 100 dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan berada pada kisaran Rp 0,38-0,42 triliun. Pada RAPBN 2011, Pemerintah mengasumsikan nilai tukar rupiah berada pada level Rp 9.300.
Untuk tingkat suku bunga SBI 3 bulan, jika lebih tinggi 0,25% dari angka yang diasumsikan yaitu 6,5%, maka terdapat tambahan defisit dalam RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp 0,3-0,5 triliun.
Pada tahun anggaran 2011, apabila rata-rata ICP lebih tinggi USD 1 per barel dari angka yang diasumsikan yaitu USD 80 per barel, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp 0-0,3 triliun (surplus).
Apabila realisasi lifting minyak domestik lebih rendah 10 ribu barel per hari dari yang diasumsikan yaitu 970 ribu barel per hari, maka tambahan defisit pada RAPBN 2011 diperkirakan berada pada kisaran Rp 3-3,34 triliun.
Variabel lain yang berpengaruh terhadap besaran defisit adalah volume konsumsi BBM domestik. Peningkatan konsumsi BBM domestik sebesar 0,5 juta kiloliter berpotensi menambah defisit RAPBN 2011 pada kisaran Rp 1,14-1,25 triliun. Konsumsi BBM domestik diasumsikan sebesar 36,8 juta kiloliter dalam RAPBN 2011.
Untuk defisit, Pemerintah menetapkan defisit dalam RAPBN 2011 pada tingkat 1,7% terhadap PDB atau senilai Rp 115,7 triliun.
(nia/qom)











































