"Rusia baru pertama kalinya diundang sebagai tamu di ASEAN Economic Community dan tentunya banyak yang dibahas nanti. Jadi sifatnya masih penjajakan," ujar Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan International (KPI), Gusmardi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (19/8/2010).
Ia menjelaskan, dalam pertemuan tersebut akan dibahas mengenai bagaimana mengembangkan kerjasama perdagangan antara ASEAN dan Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan di Da Nang akan dimulai di tingkat pejabat ekonomi senior, dilanjutkan dengan pertemuan dewan AFTA yang akan membahas kemajuan maupun hambatan pelaksanaan perjanjian ASEAN di bidang barang (Asean Trade in Goods Agreement atau ATIGA yang akan menggantikan perjanjian Common Effective Preverential Tariffs atau (CEPT).
Setelah itu para Menteri akan bertemu dengan forum dewan kawasan investasi ASEAN yang akan membahas kemajuan dan hambatan perjanjian ASEAN di bidang investasi.
Beberapa isu yanbg akan dibahas dalam pertemuan itu antara lain mengenai kemajuan dan tantangan dalam menjalankan Asean Economic Community Blueprint 2015, strategi komunikasi ASEAN EConomic Comunity 2015, dan laporan sementara penyusunan master plan on ASEAN Connectivity.
Gusmardi memaparkan, dalam pertemuan tersebut para menteri dijadwalkan akan membahas soal kinerja perdagangan ASEAN dalam tiga tahun terakhir serta upaya-upaya yang akan diambil untuk meningkatkannya.
Ia mencatat total perdagangan barang ASEAN poada tahun 2009 memang mengalami penurunan sebesar 19% dibandingkan tahun 2008, dari US$ 1,9 triliun menjadi US$ 1,5 triliun.
Begitupun dengan ekspor juga menurun sebesar 17,1% yaitu dari US$ 977,5 miliar menjadi US$ 810 miliar, sementara impor turun sekitar 21% dari US$ 919,6 miliar menjadi US$ 726,4 miliar.
Perdagangan intra-ASEAN juga mengalami penurunan sebesar 20% dari US$ 470,1 miliar menjadi US$ 376,2 miliar di tahun 2009.
"Dalam konteks ini, beberapa program kerja ASEAN menjadi sangat penting untuk terus didorong. Salah satunya adalah pengembangan ASEAN Single Window," jelasnya.
Saat ini Brunei, Indonesia, Malaysia dan Filipina telah menyelesaikan uji teknis CEPT Form D melalu Single Window. Hal lain yang juga akan menajdi perhatian para menteri adalah penyederhanaan asal barang atau SKA.
Tujuannya adalah memfasilitasi pelaku usaha untuk memanfaatkan berbagai preferensi tarif baik dalam CEPT-AFTA maupun antara ASEAN dengan mitra dialognya yaitu China, Korea, Jepang, Audtralia-Selandia Baru dan India.
(epi/qom)










































