"Margin kita terpukul karena dolar (melemah) sekarang margin 10-15%, padahal sebelumnya 20-25%," kata Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Wilayah Solo Raya, David R. Wijaya di kantor Walikota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (21/8/2010)
Ia mengatakan masalah kurs bukan hanya masalah yang dihadapi oleh para perajin mebel di Solo. Krisis Global beberapa waktu lalu juga cukup menghantam sektor mebel di Solo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin tahun 2011 akan lebih baik," katanya.
Sayangnya kata David, tantangan di sektor mebel terus meningkatnya misalnya biaya produksi yang setiap tahunnya terus naik sementara para IKM harus tetap bersaing dengan mebel-mebel dari China dan Vietnam.
Pada tahun 2011 ia berharap rencana kenaikan TDL tidak terealisasi agar sektor ini tetap berdaya saing. "Harapan kita tahun 2011 nggak usah naik lagi TDL, selama ini saja sudah membebani," jelasnya.
Sementara itu Walikota Surakarta Joko Widodo juga mengatakan bahwa pada masa puncaknya ekspor mebel Solo pernah mencapai 600 kontainer per bulan. Sementara saat ini hanya mencakup setengahnya atau kurang lebih 300 kontainer per bulan.
"Industri rotan, furnitur drop, industri kayu drop separuhnya, karena pasar, bahan baku, nilai kurs rupiah," kata Joko.
(hen/dnl)











































