Impor Biskuit Melonjak 1.100%

Impor Biskuit Melonjak 1.100%

- detikFinance
Senin, 23 Agu 2010 14:15 WIB
Impor Biskuit Melonjak 1.100%
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan selama 6 bulan pertama 2010 terjadi lonjakan impor makanan minuman rata-rata hingga 70%. Lonjakan impor terbanyak terjadi untuk produk biskuit hingga 1.100% dari Malaysia, Korea, Thailand, Rusia, dan China.

"Makanan dan minuman impor naik 70% selama 6 bulan pertama," kata Sofjan Wanandi dalam acara konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (23/8/2010).

Menurut Sofjan kenaikan impor makanan minuman dipicu adanya pelaksanaan perdagangan bebas dengan berbagai negara termasuk dengan China (AC-FTA). Selain menguatnya rupiah terhadap dolar AS telah mendorong kenaikan tren impor makanan minuman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenaikan impor biskuit 1.100%, dalam 6 bulan pertama produk biskuit dalam negeri turun 25%," katanya.

Selain itu, lanjut Sofjan, kenaikan impor pun terjadi terhadap produk jamu impor naik 200%, produk shampo 25% dan produk-produk konsumer goods lainnya. Kenaikan impor hanya mencakup produk legal, belum dihitung dari impor ilegal yang diperkirakan lebih besar.

"Penetapan 5 pelabuhan ternyata hanya hangat-hangat tahi ayam, semuanya masuk saja," pungkas Sofjan.

Sofjan menuturkan lonjakan-lonjakan produk makanan-minuman impor bukan hanya merugikan industri dalam negeri. Namun selain itu membahayakan masyarakat karena tak jarang produk-produk tersebut belum berbahasa Indonesia.

"Kalau industri makanan minuman saja tak terselamatkan, saya tak percaya nasib industri lain tak terselamatkan," katanya.

Ia mengharapkan pemerintah segera bertindak cepat, terutama dalam mengatasi masalah ini. Wajib label berbahasa Indonesia bagi produk makanan minuman menjadi hal yang penting.

Sementara itu Franky Sibarani perwakilan Apindo lainnya mengatakan temuan melonjaknya produk impor dan tak berbahasa Indonesia merupakan hasil temuan pengembangan dari 5 kota sebelumnya. Beberapa kota lainnya yang ditemukan antara lain Yogyakarta, Semarang, Pontianak, Balikpapan, Malang, dan Banten.

"Pelanggaran-pelanggaran sebenarnya jauh lebih besar dari temuan kita," katanya.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads