MS Hidayat: Subsidi Listrik Dikurangi Bukan Berarti TDL Naik

MS Hidayat: Subsidi Listrik Dikurangi Bukan Berarti TDL Naik

- detikFinance
Selasa, 24 Agu 2010 08:23 WIB
MS Hidayat: Subsidi Listrik Dikurangi Bukan Berarti TDL Naik
Jakarta - Pengurangan subsidi listrik dalam proyeksi APBN 2011 dari Rp 55,1 triliun di 2010 menjadi Rp 41 triliun tidak langsung bermakna tarif dasar listrik (TDL) akan naik lagi.

Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan, pemerintah akan mempersiapkan berbagai cara agar pengurangan subsidi tersebut tidak langsung pada kenaikan TDL. Pemerintah akan mendorong PLN melakukan efisiensi habis-habisan.

"Nampak dari anggaran subsidi listrik yang dikurangi dari Rp 55,1 triliun diturunkan menjadi Rp 41 triliun, sehingga ada gap, yang dinilai orang kenaikan TDL,  padahal belum tentu itu langkah yang akan dilakukan," kata Hidayat di kantornya, Jakarta, Senin malam (23/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan Hidayat ini berbeda dengan yang disampaikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat memberikan penjelasan mengenai nota keuangan dan RAPBN 2011. Dalam penjelasannya, Agus mengatakan TDL akan naik sekitar 15% mulai awal 2011.

Lebih jauh Hidayat menjelaskan, opsi kenaikan TDL merupakan opsi yang akan dihindari oleh pemerintah terkait adanya pengurangan subsidi listrik di 2011.
 
"Kenaikan TDL hanya salah satu opsi, atau opsi terakhir atau malah nggak," katanya.

Ia berpendapat mengenai penurunan subsidi listrik, menurutnya semua pihak patut
setuju, selain itu penurunan subsidi listrik sebagai suatu kemajuan.

"Hanya siapa yang dikenai bagaimana caranya," katanya.

Dikatakannya banyak langkah yang bisa dilakukan selain opsi TDL naik,  misalnya
penyikapan terhadap penggunaan batubara dan gas oleh PLN, penghematan kinerja,
termasuk menggelembungkan defisit APBN 2011.

"Bahkan diskusi saya dengan para  pengusaha, defisitnya ditambahkan. Masih banyak
alternativ yang bisa dilakukan tidak semata-mata kenaikan TDL," kilahnya.

Hidayat mengaku secara resmi dirinya akan membuat makalah terhadap dampak kenaikan TDL bagi industri termasuk daya saing nasional. Ia akan menmamapkannya di tingkat kabinet.

"Kalau itu mengganggu daya saing, maka kalau bisa itu tidak dilakukan (TDL tak
naik). Sebagai menteri industri harus membela sektor," ucapnya.

Maklum saja, lanjut Hidayat, berdasarkan hasil survey terakhir, pertumbuhan ekonomi
negara-negara tetangga seperti  Singapura pertumbuhannya sudah mencapai 10%,
Malaysia sudah diatas 6%, Thailand sudah 8%

"Meski waktu krisis kita paling unggul di ASEAN. Kita mulai disaingi kembali. Kita
harus hati-hati dalam menentukan langkah supaya tidak terjadi distorsi pada daya
saing kita," pungkas Hidayat.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads