Harga 'Tanah Air' Hanya Dijual US$ 17 Per Ton

Harga 'Tanah Air' Hanya Dijual US$ 17 Per Ton

- detikFinance
Selasa, 24 Agu 2010 14:39 WIB
Jakarta - Maraknya penambangan bijih besi oleh para kuasa pertambangan (KP) atas izin Pemda dengan mengeruk raw material atau bahan mentah yang hanya dihargai US$ 17 per ton membuat geram pelaku industri baja nasional.

Industri baja seperti PT Krakatau Steel (KS) khawatir jika penambangan bijih besi di berbagai daerah tak dibatasi maka akan mengancam pasokan bijih besi ke industri baja lokal.

Meski saat ini jenis bijih besi lokal mengandung fe rendah sehingga belum bisa diolah di dalam negeri, sehingga lebih banyak diekspor ke luar negeri seperti ke China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tolong teman-teman di Kabupaten atau kota kalau mau mendapatkan PAD (pendapat asli daerah) jangan hanya jualan Tanah Air," tegas Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, I Putu Suryawirawan dalam acara diskusi Revitalisasi BUMN Manufaktur Strategis, di Kemenperin, Jakarta, Selasa (24/8/2010).

Menurut Putu, berdasarkan perhitungan jika material mentah itu diolah atau mengalami pemisahan akan ada nilai tambah yang lebih besar yaitu mencapai US$ 70 per ton. Apalagi kalau diolah menjadi sponge iron nilainya akan bertambah menjadi US$ 200 per ton bahkan kalau diolah menjadi baja akan mencapai US$ 600 per ton.

"Harga raw material US$ 17 per ton, lalu dibawa ke China, di sana bukan hanya besinya yang diambil, tapi mineral lainnya juga diproses," kata Putu.

Ia mengatakan banyak para kuasa pertambangan saat ini tidak melakukan praktik pertambangan namun melakukan penggalian sehingga lebih banyak merusak alam.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Fazwar Bujang menjelaskan dalam UU Minerba ketentuan kewajiban pengolahan bahan baku mineral batubara di dalam  negeri berlaku efektif 2014. Namun jika selama lima tahun ke depan ekspor bijih besi atau raw material tak dibendung maka industri baja tidak akan mendapatkan bijih besi.

Ia mengatakan eksploitasi bijih besi diberbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Barat (Solok), Sumatera Selatan saat ini memprihatinkan. Padahal lokasi pertambangannya hanya memiliki deposit rata-rata tidak lebih dari 5 juta ton bijih besi sesuai karakter sebaran bijih besi di Indonesia, namun dampak lingkungan yang ditimbulkan sangat merugikan.

"Kalau yang terjadi sekarang bijih besi dijual murah, lingkungan rusak, masyarakat tak dapat apa-apa," katanya. (hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads