Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui adanya penurunan stok gula pada Agustus ini dibandingkan dengan Juli lalu. Penurunan tersebut dari 2,52 juta ton menjadi 2,28 juta ton.
Hatta menilai penurunan ini karena adanya faktor perubahan iklim global yang membuat rendemen (kadar air dalam hasil panen) gula menjadi turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, lanjut Hatta, pemerintah tengah mempertimbangkan pelaksanaan impor itu. Namun, soal tambahan pasokan dan berapa jumlahnya akan dihitung oleh Kementerian Pertanian dan Perdagangan.
"Kita juga meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk melakukan stabilisasi," ujarnya.
Kekhawatiran terhadap stok gula, lanjut Hatta, juga ditambah dengan adanya keputusan Thailand untuk mengimpor bahan pangan itu. Dengan demikian permintaan terhadap stok internasional juga meningkat.
"Saya baru dapat informasi semalam Thailan baru saja memutuskan untuk impor," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Deputi Koordinasi Bidang Pertanian dan Kelautan Kementerian Perekonomian Diah Maulida. Menurutnya, pada awalnya perkiraan stok dari hasil produksi bisa mencapai 2,8 juta ton.
Namun karena hujan yang terjadi terus menerus membuat rendeman menjadi berkurang.
"Sebetulnya panennya sama, tapi setelah digiling itu kan ternyata banyak airnya dibandingkan sari gula, jadi itu yang membuat berkurang," jelasnya.
Diah menilai untuk kebutuhan gula rumah tangga setahun ini mencapai 2,7 juta ton. Meski dari produksi tidak mencukupi, namun masih ada tambahan dari stok impor sebesar 450 ribu ton. Kemudian ditambah dengan sisa persediaan gula awal tahun sebesar Rp 352 ton.
"Jadi masih cukup sampai dengan akhir tahun karena impor tahun lalu kan baru masuk sekarang," kata nya.
Adapun jumlah surplus akhir tahun, lanjut Diah, jika dengan perhitungan 2,52 juta ton (perhitungan Juli), maka sampai dengan akhir tahun ada 900 ribu ton.
"Kalau sekarang dari retaksasi berkurang menjadi 2,28 maka surplusnya juga turut berkurang," tambahnya.
(nia/epi)











































