YLKI: Pertamina Tak Boleh Diskriminasi Soal Keamanan Elpiji

YLKI: Pertamina Tak Boleh Diskriminasi Soal Keamanan Elpiji

- detikFinance
Rabu, 01 Sep 2010 11:57 WIB
YLKI: Pertamina Tak Boleh Diskriminasi Soal Keamanan Elpiji
Jakarta - PT Pertamina (persero) meluncurkan elpiji 'premium' 9 kg dan 14 kg, dengan pelayanan dan keamanan yang lebih baik. Hal itu lantas memicu kekhawatiran konsumen seputar keamanan tabung 3 kg dan 12 kg, yang notabene lebih murah.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai PT Pertamina (Persero) telah melakukan diskriminasi terhadap keamanan pengguna tabung elpiji isi 3 Kg dan 12 Kg.

Perbedaan harga antara kedua tabung ini dengan elpiji 'premium' yang baru saja diluncurkan BUMN Migas tersebut telah membuat tingkat keamanan elpiji premium lebih baik daripada dua tabung yang sudah lebih dulu beredar di masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami minta pertamina tidak diskriminasi dalam masalah safety kepada konsumen," ujar Pengurus Harian YLKI, Daryatmo saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (1/9/2010).

Menurut dia, Pertamina harus menjamin seluruh produk elpiji  yang dijualnya benar-benar aman dan tidak boleh membeda-bedakan tingkat keamanan karena masalah harga jual.

"Tidak boleh seperti. Karena konsumen bayar lebih mahal maka dia lebih aman. Itukan namanya diskriminasi. Yang namanya safety itu namanya wajib," tegasnya.

Jika Pertamina menjual harga elpiji premium lebih mahal, lanjut dia, maka  sebaiknya Pertamina memberi kompensasi tidak dengan membedakan kualitas keamanan,  tapi dengan memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik.

"Safety tidak boleh beda. Tapi service harus lebih baik . Service-nya bagaimana? Itu yang harus dipikirkan oleh Pertamina," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Daryatmo juga mempertanyakan soal keuntungan yang didapatkan konsumen  jika menggunakan elpiji ukuran 9 Kg dan 14 Kg tersebut.

"Pertamina belum pernah sampaikan kepada kami, apa benefit yang didapat  konsumen? Karena mereka kan sudah bayar lebih mahal. Harusnya kan ada nilai tambahnya karena konsumen bayar lebih mahal," tambahnya.

Ia berharap kehadiran elpiji premium ini tidak akan memicu peningkatan kegiatan pengoplosan di masyarakat terkait adanya disparitas harga antara elpiji premium dengan harga elpiji ukuran 3 Kg dan 12 Kg.

"Pertamina harus memastikan untuk mengontrol pendistribusiannya agar pengoplosan itu tidak terjadi," tambahnya.

Untuk diketahui, kedua produk premium Pertamina dijual dengan harga pasar yaitu sekitar Rp 7.800- Rp 7.900 per Kg. Sedangkan elpiji 3 Kg saat ini dijual dengan harga Rp 5.850 per Kg atau lebih murah sekitar 1.950-2.050 per Kg. Sedangkan elpiji 12 Kg dijual Rp 1.600 lebih mahal dibandingkan elpiji 3 Kg.

Dengan membayar lebih mahal, Pertamina  menjamin kedua produk elpiji premium yang dijualnya jauh lebih aman karena memiliki dua katup yang berada di atas dan di bawah tabung. Sementara saat ini tabung elpiji 3 Kg dan 12 Kg hanya memiliki satu katup.

Dengan memiliki dua katup, maka jika ada salah satu katup yang bocor maka akan dikunci oleh katup lainnya sehingga gas tidak akan keluar.

"Begitupun kalau selang dan regulatornya bermasalah, dia akan mengunci," ujar Vice President CorporateCommunication Pertamina, Mochammad Harun saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (31/8/2010).

(epi/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads